Monday, May 4, 2009

Terpikir lagi...

Praktikum IUT hari ini sangat menakjubkan! Menunjukkan progres yang sangat berarti, setelah melalui pemikiran panjang, ruwet, dan memusingkan saat survey awal hari ini. Tersisa satu sisi lagi yaitu sisi plawid yang belum terpetakan dan selesailah praktikum tachymetri ini, tinggal masalah bagaimana mengolah datanya. Hmmmmmmm..... Pengolahan data ini juga tampaknya masih akan menjadi masalah tersendiri, secara kayaknya nggak ada satupun diantara kita yang tahu persis apa yang harus dihitung dan bagaimana harus menghitungnya. Yasudah, hari ini ya hari ini, besok ya besok. Jadi mari dipikirkan esok hari saja...

Selesai praktikum langsung pergi ke ngopi doeloe sama damas. Menghabiskan waktu dengan duduk di sofa nyaman, minum cappucino, dan bercerita ngalor ngidul. Pada intinya damas, mulai sekarang tersebut sebagai bulet, curhat soal "pacarnya". Pacar dalam tanda kutip, karena memang yang terjalin adalah sebuah hubungan yang aneh. Yah, setelah sesi curhat ini berakhir dengan aku menghakimi "pacarnya" itu adalah pihak yang sangat jahat dan dengan gamblangnya aku menyuruh bulet untuk mengakhiri semuanya, di parkiran motor kami dikejutkan dengan biaya parkir motor sebesar 5000 perak! Huaaaaaaaaaah.... Apa-apaan? Benar-benar pemerasan ini namanya. Tapi apa mau dikata, biaya parkir di Indonesia bukanlah harga yang bisa ditawar. Sebuah harga mati yang harus terbayarkan atas nama keamanan. Keamanan memang bisa jadi semahal itu di dunia yang tidak lagi aman ini...

Di tengah-tengah perbincangan, sempat terlontar pernyataan, rasanya aku nggak merasa kehilangan abyud. Pernyataan itu tadi seakan-akan terlontar begitu saja, tanpa melalui filter pemikiran panjang di dalam otak sebelum sampai ke mulut dan akhirnya terucap. Dan sekarang, setelah semua perbincanagn tadi selesai, pernyataan ini menjadi sebuah pertanyaan. Normal ya rasa tidak kehilangan ini? Abyud itu udah lebih dari seseorang, dia bukan orang lain, sosoknya yang selama dua tahun lebih ini berstatus sebagai pacarku. Seharusnya dia udah menjadi bagian dari hidupku, yang secara teoritis, kalau tiba-tiba hilang aku pasti merasa ada sesuatu yang kurang, merasa kehilangan, dan setingkat lebih tinggi lagi, merasa menginginkannya untuk kembali. Bagaimana bisa aku mengatakan aku tidak kehilangan sosoknya?

Rasanya yang dikatakan abyud sewaktu kami putus memang benar. Abyud bilang, aku cuma sekedar inget abyud sewaktu menganggur. Bukan di saat-saat aku sedang menghabiskan waktu dengan teman-temanku, atau melakukan apapun itu yang sedang kukerjakan disini. Katanya, aku bener-bener inget dia itu kalo udah balik ke kosan, dan nggak ada kerjaan. Hmmmmmm... Pernyataan yang kuakui benar adanya, tapi tetep aja bikin shock. Itu jelas bukan sesuatu yang aku rencanakan, tapi itu adalah hal yang sangat jahat, bukan begitu? Aku sendiri menganggap itu adalah sesuatu hal yang sangat tidak bertanggungjawab dan normalnya, tidak dilakukan oleh seseorang yang sedang pacaran terhadap pasangannya. Yang jelas, malam itu cuma satu yang ada di pikiranku, bahwa ternyata aku sudah sejahat itu ke abyud. Bukannya nggak mau memperbaiki, tapi aku tahu persis semua itu adalah efek dari keadaan kami yang jarang bertemu. Karena yang aku yakini selama ini, yang akan selalu membuat keadaan lebih baik adalah sewaktu kami bertemu. Dan sekarang, dengan kemungkinan keadaan dimana kami bakal jadi lebih jarang lagi untuk bisa bertemu, masalah ini pasti nggak akan pernah terselesaikan. Ujung-ujungnya? Jelas aku bakal terus menyakiti abyud dengan tingkah laku tidak bertanggung jawab ini. Belum dewasakah aku menghadapi hal macam ini?

Semua rasa ini mungkin telah menjadi hal yang sangat abstrak, tidak terdefinisikan, dan tidak bisa dianalisis. Yang aku tahu, aku selalu merasa bisa menghabiskan sisa hidupku bersama seorang abyud saja. Serius, demi apapun aku tahu aku bisa. Lihat kecocokan kami selama ini. Apa pernah ada masalah fundamental yang terjadi diantara kami selama ini? Tidak ada. Apa pernah ada masalah yang terlalu rumit hingga tidak pernah berhasil kami satukan jalan keluarnya yang terbaik? Tidak pernah. Kami bertengkar, jelas pernah, sekedar karena keadaan yang tidak menguntungkan. Segala yang pernah kami pertengkarkan bukanlah sesuatu yang terlalu penting, bahkan bisa dikatakan seperti itu. Diatas segalanya, abyud sosok pertama yang sangat berarti buatku. Dia yang kuanggap sebagai rumah, dia tempat kemana selama ini aku selalu berlari pulang. Kalaupun misalkan pada akhirnya aku harus menikah (duh,berharap aku bisa menemukan kata lain yang tidak seekstrim ini, tapi ternyata tidak kutemukan) dengan abyud, aku tahu aku bisa bertahan dengannya. Aku tahu dia bisa mengerti aku, dan aku tahu dia selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk hubungan ini, untukku. Lalu apa yang kurang?

Entah.
Teringat suatu petuah,
Don't marry someone you think you can live with, marry someone you think you cannot live without..

1 comment:

Dominikus Damas said...

quote terakhir keren yem, huahaha, jarang2 :P