Wednesday, June 24, 2009

mau, tapi takut

sumpah ini rasanya adalah kalimat terbodoh yang pernah keluar dari mulutku..

Monday, June 22, 2009

Sesuatu yang salah itu ternyata adalah

Setelah berpikir lebih dalam lagi tentang sesuatu yang rasanya salah itu, akhirnya saya menemukan setitik pencerahan. Klimaks dalam munculnya pencerahan ini adalah saat tadi malam saya pergi jalan-jalan dengan Mami. Semalam kami sedang makan di Gokana Teppan, saat tiba-tiba tanpa saya rencanakan sama sekali saya mulai bicara, "Rasanya ada yang salah sama *****". Yap, ***** ini adalah sesuatu yang saya inginkan yang telah saya sebutkan sebelumnya. Dari pernyataan itu mulailah mengalir perbincangan seru kami mengenai sesuatu yang saya inginkan tapi rasanya ada yang salah itu.
Dan, setelah bertukar pikiran dengan pihak ketiga yang pastinya lebih bisa berpikir objektif dari saya, sebuah kesimpulan datang. Saya tidak bisa percaya pada sesuatu yang saya inginkan itu. Saya tidak bilang yang saya mau adalah sesuatu yang suka berbohong, tidak, ia tidak suka berbohong. Hanya saja, saya memang tidak bisa mempercayainya sepenuh hati saya.
Sebelumnya, saya pernah begitu percaya pada sesuatu. Semalam bahkan saya utarakan kepada Mami, "Gw berani bilang kalo gw percaya sama dia sampe mati, sumpah". Yah, statement yang mungkin berlebihan, tapi kenyataannya memang begitu. Dan rasa percaya saya yang ekstrimis itu tidak pernah terkecewakan sedikitpun, dimana itu berarti saya mempercayai hal yang tepat kan? Saya tahu persis rasanya percaya terhadap sesuatu, maka berlaku pula sebaliknya, saya tahu persis rasanya tidak bisa mempercayai sesuatu.
Dan itulah yang saya rasakan, sesuatu yang salah yang dari kemarin berusaha saya definisikan. Saya tidak merasa bisa mempercayainya sepenuh hati. Sebaiknya kita tidak menginginkan sesuatu yang tidak kita percayai kan? Bahkan rasanya secara alamiah pun kita tidak akan menginginkannya... Lalu kenapa saya tetap menginginkannya? Bodoh atau kelewatan penasaran?

Monday, June 15, 2009

Salah Salah Salah...

Rasanya ada yang salah. Pernah tahu rasanya menginginkan sesuatu, sekaligus merasakan ada sesuatu yang salah dengan yang kau inginkan itu? Sesuatu itu berbeda, dimana perbedaan ini biasanya menjadi hal yang akan diasumsikan sebagai definisi menarik. Namun tetap saja, ada yang salah. Gunakan perasaan atau akal sehat untuk menganalisis hal seperti ini?
Atau berdiskusi saja dengan setan?

Saturday, June 13, 2009

Kata hati, ingin pergi jauh..

Tiba-tiba bete tanpa sebab musabab yang jelas. Dimulai dengan nggak konsen sewaktu membaca novel, padahal novelnya bagus, berlanjut ke mulai merasa bosan, mulai ingin pergi ke suatu tempat, mulai ingin lari dari kehidupan yang sekarang membuatku bosan ini, dan ingin berada di lingkungan baru, udara baru, karakter-karakter baru, dan berujung pada.... Jogja!
Yeah, again, enath sekarang ada siapa disana, rasanya kok aku begitu merindukannya.
Pikiran spontan seperti ini memang bukan pertama kalinya muncul. Sayangnya, entah kenapa pikiran spontan ini muncul pada hari Sabtu sore, dengan keadaan menjelang hari Senin yang berarti sudah harus kuliah Hidrografi I jam setengah 8 pagi.
Pilihan yang saya punya :
Menuruti kata hati, berangkat malam ini, sampai Jogja Minggu pagi, dan harus kembali ke Bandung Minggu malam, dimana itu berarti hanya menghabiskan sangat sedikit waktu disana, kurang dari 24 jam. Sound useless.
Menolak kata hati, terus saja berkubang dalam kebosanan disini. Kebosanan untuk tidak ingin melakukan apa-apa karena apa yang mau dilakukan terbentur waktu yang amat mepet, lalu menanti dengan sabar tibanya hari Senin.

Sayang sekali, tampaknya kata hati memang tak selalu bisa dituruti.

Tuesday, June 9, 2009

Yang lahir dari sebuah perbincangan di tengah malam

Ternyata semuanya memang hanya sekedar masalah sudut pandang. Semua hal yang kita percaya, yang kita yakini dengan sepenuh hati, dan yang kita berusaha untuk cerminkan dalam setiap sikap juga tindakan yang kita ambil dalam hidup ini, semuanya hanyalah masalah sudut pandang.
Ada sesuatu yang sangat didewakan oleh sebelah pihak karena alasan-alasan yang mereka percaya dan tanam dalam hati masing-masing, ternyata hanya menjadi seonggok sampah bagi sebelah pihak lain yang menolak untuk mempercayai apalagi menanamnya dalam hati masing-masing. Kenapa bisa begitu? Hanya karena mereka melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Maka dari sebuah sudut pandang, sebuah kepercayaan sakral pun dapat menjadi sesuatu yang amat subjektif.

Hmmmm....

Sekedar mencari sebuah pembenaran atas apa yang dilakukan yang mungkin tak biasa dari mata orang lain, tak bisa diterima oleh beberapa pihak sebagai sebuah hak hidup untuk melakukan apapun yang kita mau, dan ditolak oleh beberapa kepercayaan yang dianut oleh masing-masing pihak.
Jangan pernah merendahkan siapapun atas apapun yang mereka putuskan untuk dilakukan.
Jangan pernah menghakimi, sudut pandang tiap manusia bukanlah hal yang dapat kau lihat dengan hanya mengedipkan mata.

Sunday, June 7, 2009

Kembang Api Kedua


Dari sekian banyak kembang api yang pernah terlintas di depan mataku, entah kenapa dua diantaranya harus kusaksikan bersama denganmu, pada moment yang tak biasa pula.
Dan dari semua kemungkinan jawaban yang terlintas, apa benar kalau kembang api malam minggu kemarin itu sebuah pertanda?
Bahwa awal memang selalu memberi jawaban atas kebuntuan yang mungkin kita temui di tengah perjalanan, seperti dulu pernah kau katakan?
Pertanda bahwa memang mungkin aku tak akan pernah bisa lepas darimu?

Apapun itu, terima kasih untuk dufannya..

Wednesday, June 3, 2009

Terima Kasih!

Hanya ingin mengucapkan sebuah terima kasih yang teramat sangat besarnya kepada Pak Irwan, selaku dosen Hitung Perataan II, dimana dalam mata kuliah 3 sks ini saya membolos sebanyak total 12 kali, dan pernah tersandung kasus tertangkap basah titip absen, dengan nilai UTS asli yang juga hanya 35, ternyata saya mendapatkan nilai akhir B!
Beribu-ribu terima kasih pada Pak Irwan yang begitu pemaaf..
Terima kasih kepada Ranu yang telah mengerjakan tugas perbaikan nilai UTS yang akhirnya meningkatkan nilaiku dari 35 menjadi 70 sementara aku asik pacaran di Jogja waktu itu..
Terima kasih kepada Raksasa yang telah memberikan jawaban tiap baris angka matriks pada soal nomer 3 UAS kemaren yang nggak mungkin aku dapatkan jawabannya karena nggak bermodalkan kalkulator canggih sampai mendapat nilai UAS 83..
Terima kasih terima kasih terima kasih...

Mungkin ini neraka, bukan rumah...

Kembali ke tanah Bandung..
Beberapa jam duduk di kereta ternyata merupakan pengalaman yang cukup mengerikan. Pertama, karena semalam hujan deras, lengkap dengan petir yang nggak pernah berhenti berkedip dan mengancam. Aku ga suka petir, sama sekali, dalam keadaan apapun.
Kedua, ternyata berjam-jam duduk hampir tanpa bersosialisasi itu merupakan sebuah keadaan sempurna yang dapat membawa otakmu ke dunia antah berantah dengan hal-hal yang dapat dikatakan, lebih enak untuk nggak dipikirkan.

Berangkat dengan mood jelek hanya karena masalah sepele dengan papa. Yah, semua selalu merupakan masalah sepele. Dari dulu selalu begitu, entah siapa yang membuatnya menjadi besar. Entah bagaimana caranya semua tampak tak bisa terselesaikan tanpa emosi jiwa.
Suatu kali, dalam salah satu waktu aku berada di kereta, saat aku berusaha memejamkan mata, yang muncul adalah kejadian demi kejadian yang selama ini terjadi dalam sebentuk kecil keluarga yang kumiliki. Berat mengakui, tapi ini memang sebuah keluarga.
Setiap kejadian selama ini seakan menegaskan bahwa aku memang seorang anak yang lahir dari seorang ayah yang tidaklah sempurna. Juga tentu, seorang ibu yang sama tidak sempurna. Dan setelah masing-masing kejadian itu berlalu tanpa penyelesaian yang pantas, rasanya tertumpuk sesuatu yang amat mengganjal di dalam hati, jiwa, pikiran, sampai terbawa ke pola pikir, perilaku, juga mungkin sikap yang aku ambil untuk menjalani hidup ini. Ternyata ada banyak kata yang selama ini tidak pernah berani kuungkapkan, demi membuat semua ocehan yang menyakitkan hati itu cepat berlalu. Aku nggak pernah mendengarkan dengan hatiku, aku tahu dengan belajar dari ibuku, hati bukanlah sesuatu yang pantas untuk diberikan pada ayahku bahkan kalaupun hanya untuk mendengarkan setiap kata yang terlontar dari mulutnya. Maafkan anakmu ini, tapi aku memang tak menghormatimu dalam hal ini. Ayahku bahkan tak pernah belajar untuk mendengarkan orang lain, jadi kenapa harus menuntut untuk didengarkan? Ayahku bahkan tak pernah belajar untuk meminta maaf, jadi kenapa harus ada maaf diantara semua yang salah ini? Ayahku bahkan tak pernah belajar untuk menghormati sesosok keberadaan, jiwa, dan pikiran yang dimiliki oleh orang lain, jadi kenapa harus dihormati?
Jadi cara kerjanya adalah begini. Ada 3 manusia dewasa (terserah kalau mau menyebutku sebagai anak dengan posisi di bawah orang tua, yang jelas kita semua tahu siap atau tidak siap aku harus menjadi dewasa di umurku sekarang) di bawah satu atap. Hidup di satu atap itu jelas tidak mudah, terutama untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan lamanya. Ada seorang ayah yang selalu merasa paling benar dengan pikirannya yang tak terbantahkan hingga selalu ingin mendominasi. Ada seorang ibu yang sudah terlalu mengenal baik ayah, diam saja terhadap semua yang dilakukan ayah, berusaha membangun hidupnya sendiri tanpa pernah meninggalkan 3 orang dewasa dalam satu atap ini. Kemudian akibatnya ada seorang anak yang seumur hidupnya selalu merasakan konflik kepentingan dari kedua orang dewasa yang lainnya, dengan bimbang menjalani hari demi hari, sampai akhirnya mati rasa dan tak mau ambil pusing.

Kenapa aku menyebut di bawah satu atap untuk mendeskripsikan 3 orang dewasa di atas?
Karena itu bukanlah sebuah rumah. Rumah adalah hal yang kurasakan paling mahal untuk didapati, dan aku tak mau menyebut atap yang menaungiku bersama mereka adalah sebuah rumah. Bukan, itu bukan rumah.

Kenapa aku menyebut 3 orang dewasa, bukannya keluarga?
Karena kalau bisa merubah sebuah definisi menurut hati yang merasakan, itu bukanlah sebuah keluarga. Dimana hatinya? Keluarga pasti memiliki satu hati kan?

Dan kenapa aku tak pernah mau pulang?
Karena pergi kesana memang sama sekali bukan definisi dari pulang. Pulang adalah ke tempat yang menghangatkanmu, tempat yang menghargaimu sebagai seorang individu dengan apa adanya dirimu, membuatmu nyaman sampai kau tak pernah ingin pergi lagi. Definisi itu jelas tak merangkum apa yang terasa saat aku kembali ke bawah atap yang kubicarakan disini.