Wednesday, June 3, 2009

Mungkin ini neraka, bukan rumah...

Kembali ke tanah Bandung..
Beberapa jam duduk di kereta ternyata merupakan pengalaman yang cukup mengerikan. Pertama, karena semalam hujan deras, lengkap dengan petir yang nggak pernah berhenti berkedip dan mengancam. Aku ga suka petir, sama sekali, dalam keadaan apapun.
Kedua, ternyata berjam-jam duduk hampir tanpa bersosialisasi itu merupakan sebuah keadaan sempurna yang dapat membawa otakmu ke dunia antah berantah dengan hal-hal yang dapat dikatakan, lebih enak untuk nggak dipikirkan.

Berangkat dengan mood jelek hanya karena masalah sepele dengan papa. Yah, semua selalu merupakan masalah sepele. Dari dulu selalu begitu, entah siapa yang membuatnya menjadi besar. Entah bagaimana caranya semua tampak tak bisa terselesaikan tanpa emosi jiwa.
Suatu kali, dalam salah satu waktu aku berada di kereta, saat aku berusaha memejamkan mata, yang muncul adalah kejadian demi kejadian yang selama ini terjadi dalam sebentuk kecil keluarga yang kumiliki. Berat mengakui, tapi ini memang sebuah keluarga.
Setiap kejadian selama ini seakan menegaskan bahwa aku memang seorang anak yang lahir dari seorang ayah yang tidaklah sempurna. Juga tentu, seorang ibu yang sama tidak sempurna. Dan setelah masing-masing kejadian itu berlalu tanpa penyelesaian yang pantas, rasanya tertumpuk sesuatu yang amat mengganjal di dalam hati, jiwa, pikiran, sampai terbawa ke pola pikir, perilaku, juga mungkin sikap yang aku ambil untuk menjalani hidup ini. Ternyata ada banyak kata yang selama ini tidak pernah berani kuungkapkan, demi membuat semua ocehan yang menyakitkan hati itu cepat berlalu. Aku nggak pernah mendengarkan dengan hatiku, aku tahu dengan belajar dari ibuku, hati bukanlah sesuatu yang pantas untuk diberikan pada ayahku bahkan kalaupun hanya untuk mendengarkan setiap kata yang terlontar dari mulutnya. Maafkan anakmu ini, tapi aku memang tak menghormatimu dalam hal ini. Ayahku bahkan tak pernah belajar untuk mendengarkan orang lain, jadi kenapa harus menuntut untuk didengarkan? Ayahku bahkan tak pernah belajar untuk meminta maaf, jadi kenapa harus ada maaf diantara semua yang salah ini? Ayahku bahkan tak pernah belajar untuk menghormati sesosok keberadaan, jiwa, dan pikiran yang dimiliki oleh orang lain, jadi kenapa harus dihormati?
Jadi cara kerjanya adalah begini. Ada 3 manusia dewasa (terserah kalau mau menyebutku sebagai anak dengan posisi di bawah orang tua, yang jelas kita semua tahu siap atau tidak siap aku harus menjadi dewasa di umurku sekarang) di bawah satu atap. Hidup di satu atap itu jelas tidak mudah, terutama untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan lamanya. Ada seorang ayah yang selalu merasa paling benar dengan pikirannya yang tak terbantahkan hingga selalu ingin mendominasi. Ada seorang ibu yang sudah terlalu mengenal baik ayah, diam saja terhadap semua yang dilakukan ayah, berusaha membangun hidupnya sendiri tanpa pernah meninggalkan 3 orang dewasa dalam satu atap ini. Kemudian akibatnya ada seorang anak yang seumur hidupnya selalu merasakan konflik kepentingan dari kedua orang dewasa yang lainnya, dengan bimbang menjalani hari demi hari, sampai akhirnya mati rasa dan tak mau ambil pusing.

Kenapa aku menyebut di bawah satu atap untuk mendeskripsikan 3 orang dewasa di atas?
Karena itu bukanlah sebuah rumah. Rumah adalah hal yang kurasakan paling mahal untuk didapati, dan aku tak mau menyebut atap yang menaungiku bersama mereka adalah sebuah rumah. Bukan, itu bukan rumah.

Kenapa aku menyebut 3 orang dewasa, bukannya keluarga?
Karena kalau bisa merubah sebuah definisi menurut hati yang merasakan, itu bukanlah sebuah keluarga. Dimana hatinya? Keluarga pasti memiliki satu hati kan?

Dan kenapa aku tak pernah mau pulang?
Karena pergi kesana memang sama sekali bukan definisi dari pulang. Pulang adalah ke tempat yang menghangatkanmu, tempat yang menghargaimu sebagai seorang individu dengan apa adanya dirimu, membuatmu nyaman sampai kau tak pernah ingin pergi lagi. Definisi itu jelas tak merangkum apa yang terasa saat aku kembali ke bawah atap yang kubicarakan disini.

3 comments:

mAmIE~ said...

wahhhhhhhhhhhh
berarti selama ini gw g punya rumah donk os?
anak terlantar donk gw???
hohohohohoho
ayok kalo gitu kita cari rumah yg oke ajah
yuk yuk yuk

Ossy Maulita said...

hooooooo
coba definisiin sendiri aja mi arti rumah buat lo apa, itu kan sekedar definisi gw seorang..
mungkin kalo menurut definisi lo, lo udah punya rumah selama ini..

mAmIE~ said...

hmmmmmm
menurut gw si ya os rumah itu adalah tempat kemanapun kita pergi dan balik lagi ke rumah
tempat yg selalu menerima apapun keadaan kita
tempat yg selalu menjadi perlindungan buat kita
disaat ga ada lg tempat bwt kita, maka rumah selalu siap menerima kita gimanapun keadaannya
hmmmmmmmmmmm
wedew jd puyeng