Monday, June 22, 2009

Sesuatu yang salah itu ternyata adalah

Setelah berpikir lebih dalam lagi tentang sesuatu yang rasanya salah itu, akhirnya saya menemukan setitik pencerahan. Klimaks dalam munculnya pencerahan ini adalah saat tadi malam saya pergi jalan-jalan dengan Mami. Semalam kami sedang makan di Gokana Teppan, saat tiba-tiba tanpa saya rencanakan sama sekali saya mulai bicara, "Rasanya ada yang salah sama *****". Yap, ***** ini adalah sesuatu yang saya inginkan yang telah saya sebutkan sebelumnya. Dari pernyataan itu mulailah mengalir perbincangan seru kami mengenai sesuatu yang saya inginkan tapi rasanya ada yang salah itu.
Dan, setelah bertukar pikiran dengan pihak ketiga yang pastinya lebih bisa berpikir objektif dari saya, sebuah kesimpulan datang. Saya tidak bisa percaya pada sesuatu yang saya inginkan itu. Saya tidak bilang yang saya mau adalah sesuatu yang suka berbohong, tidak, ia tidak suka berbohong. Hanya saja, saya memang tidak bisa mempercayainya sepenuh hati saya.
Sebelumnya, saya pernah begitu percaya pada sesuatu. Semalam bahkan saya utarakan kepada Mami, "Gw berani bilang kalo gw percaya sama dia sampe mati, sumpah". Yah, statement yang mungkin berlebihan, tapi kenyataannya memang begitu. Dan rasa percaya saya yang ekstrimis itu tidak pernah terkecewakan sedikitpun, dimana itu berarti saya mempercayai hal yang tepat kan? Saya tahu persis rasanya percaya terhadap sesuatu, maka berlaku pula sebaliknya, saya tahu persis rasanya tidak bisa mempercayai sesuatu.
Dan itulah yang saya rasakan, sesuatu yang salah yang dari kemarin berusaha saya definisikan. Saya tidak merasa bisa mempercayainya sepenuh hati. Sebaiknya kita tidak menginginkan sesuatu yang tidak kita percayai kan? Bahkan rasanya secara alamiah pun kita tidak akan menginginkannya... Lalu kenapa saya tetap menginginkannya? Bodoh atau kelewatan penasaran?

1 comment:

mAmIE~ said...

hahahahahaha
yoha kalo begitu
sama kita kalo gitu kaka
uhui
tapi maju terus pantang munduuuuuuuurrrrrr