Tuesday, July 28, 2009

Ouch. I Love You. Haha

Barusan teman saya sejak SMA datang berkunjung.
Dengan niat ingin berhutang karena hari ini dia menghabiskan sejumlah uang dengan jumlah yang sangat besar untuk belanja sampai2 tidak tersisa uang sepeserpun untuk menghidupinya sampai minggu depan.
Yah, betapa saya sangat mencintainya, sampai2 saya yang sebenarnya sedang miskin ini tidak bisa menolaknya.
Atau karena saya merasa sangat mungkin untuk mengalami hal yang sama dengannya, jadi saya merasa harus membantunya kalau mau dia besok juga membantu saya sewaktu nasib serupa menghampiri.
Haha

Teman saya memang lucu.
Sumpah.
Dia itu bawel.
Saya jarang loh jatuh cinta dengan teman yang bawel.
Jarang sekali.
Seringkali orang2 seperti itu malah membuat saya bergumam tidak jelas, "Minta disumpel sendal ini orang"
Tapi teman saya sejak SMA yang lucu dan bawel ini berhasil membuat saya jatuh cinta setengah mati.
Ouch.

Namanya Dinda Aprilia. Farmasi ITB 2007 yang entah NIM-nya berapa.
Dulu dia gendut, dulu dia tomboy.
Sejak kenal dunia farmasi, sekarang dia bohay, sekarang dia feminim.
Nomor HP nya 085743143133
Mungkin ada yang tertarik?
Sumpah dia itu satu dari sedikit orang yang tak pernah bosan untuk saya kenal.
Hahahaha

Dia bahkan dengan suksesnya berhasil membuat saya lupa kalau sebelum dia datang, saya sedang terserang sakit kepala yang cukup parah.
Sakit kepala ini baru terasa lagi setelah dia pergi dari kosan saya.
Betapa canggihnya dia.
Rugi nggak pernah kenal sama dia.
Orang yang membuat saya jatuh cinta itu pasti diberkahi suatu karakter spesial yang nggak dimiliki oleh orang lain, terutama oleh orang yang bisanya cuma membuat saya benci dan ingin melempar sendal ke mukanya.
Yakin.
Kalian harus kenal teman saya yang satu ini.

Monday, July 27, 2009

Sukaaaa Lagi

Baiklah.
Saya memang sedang norak tampaknya.

Pokoknya senaaaaaang...

Empuk2...ndud2...toing2...

Saturday, July 18, 2009

Saya hobi kejedot, sementara Si Bos paranoid

Ceritanya saya sedang sakit. Dimulai sejak hari Selasa yang lalu, dimana saya mulai merasa badan saya panas melebihi panasnya orang normal. Cuek, hari itu saya masih beraktifitas seperti biasa. Siangnya, saya, Mami, dan Ramdit keliling Bandung naik motor untuk kembali mencari rumah kontrakan. Siang itu kami mengunjungi satu rumah kontrakan di daerah Dago Pojok. Begitu sampai ke rumah yang dimaksud, kami bertiga disambut seorang wanita yang menginformasikan bahwa si empunya rumah sedang di lantai atas. Dari sinilah tragedi dimulai.

Dasarnya saya gampang pusing, badan panas sedikit saja akan langsung berimbas langsung ke kepala saya, dimana saya akan mulai merasa dunia berputar, badan lemas, lalu tidak dapat berkonsentrasi saat berjalan. Merasa masih dalam taraf baik-baik saja, saya pun melangkah menuju tangga untuk ke atas menemui si empunya kosan. Melangkah dengan pede, berusaha tidak memikirkan pusing dan panasnya badan saya. Dan tiba-tiba, di tengah-tengah tangga, saya yang tidak fokus gagal melihat sebuah tembok persis di depan saya. Dan... yang terjadi selanjutnya adalah, saya kejedot dengan suksesnya. Bukan pertama kalinya memang saya kejedot, tapi seingat saya, ini salah satu yang terkeras yang pernah saya alami.

Benar-benar keras, benar-benar sakit, dan membuat saya benar-benar menangis deras sampai sesenggukan saking sakitnya. Sialun.

Setelah tragedi itu, suhu badan saya berangsur-angsur semakin tinggi sampai taraf yang menurut teman-teman saya mengkhawatirkan. Malam harinya tidur saja bahkan saya tidak nyenyak. Berulang kali terbangun, sampai ngelindur memanggil emak saya. Dasar anak durhaka memang. Kalau sakit saja baru ingat emak. Akhirnya, setelah melalui perjuangan yang berat melewati malam yang sangat menyiksa itu, selamatlah saya membuka mata di hari Rabu pagi.

Rabu siang saya akhirnya berangkat ke dokter dengan niat mulia ingin cepat sembuh dengan diantar asisten pribadi saya (Hohohoooo). Setelah diperiksa panas badan saya memang sangat tinggi dan leukosit saya turun. Dokter menyarankan untuk istirahat total dan melihat kondisi 2 atau 3 hari lagi, dimana kalau masih panas saya harus kembali cek ke dokter.

Jadilah hari Jumat panas saya sudah turun, menyisakan rasa mual dan pusing kalau berjalan jauh saja. Namun setelah berdiskusi dengan asisten pribadi saya tersayang itu, akhirnya diputuskan Sabtu pagi saya akan kembali mengunjungi dokter dengannya untuk mengecek keadaan saya. Oke.

Tiba-tiba Jumat sore itu Si Bos menelepon.
Bos : "Gimana rumah kontrakannya udah dapet?"
Saya : "Belum Pa, temen-temenku masih nyari, belum dapet yang pas"
Bos : "Loh? Kok temen-temenmu? Kamu juga ikut nyari lah"
Saya : "Aku sakit Pa, suruh istirahat sama Dokter. Kemarin badanku panas"
Bos : "Heh?? Panas?? Berapa kemarin panasnya?? Kapan kamu ke dokter?? Ada termometer nggak kamu di kos?? Cepetan dicek lagi sekarang udah turun belum itu!"
Saya : (Shock) "Kemarin Rabu ke dokternya. Udah turun kok sekarang panasnya, tinggal mual sama lemes aja"
Bos : "Jangan nyepelein itu kamu! Kapan ke dokter lagi?? CEk dokter lagi! Kalau FLU BABI gimana coba!! Nanti malam Papa ke Bandung! Besok kita ke dokter! Jangan banyak gerak kamu. Diem aja di kasur!"
Saya : (Super Shock)

Setelah periksa ke dokter untuk kedua kalinya di hari Sabtu ini dengan Si Bos yang baru saja sampai di Bandung, ternyata dokter tidak menyinggung sama sekali kalau saya ada kemungkinan terkena flu babi. Cuma sekedar gejala tifes.
Baiklah. Si Bos saya itu memang paranoid.

Bom Bom Bom

Demi apapun saya mengutuk pelaku bom di Jakarta kemarin itu karena mengakibatkan MU gagal bertandang ke Indonesia. Saya memang bukan salah seorang yang telah membeli tiket pertandingan hingga merasa perlu menyumpahi pelaku, tapi saya mengutuki dia atau mereka atau siapapun itu atas nama warga negara Indonesia.

Sumpah, kejadian kemarin itu sangat mempermalukan Indonesia.

Kalian pikir Indonesia sudah sebagus itu apa sampai perlu dijelek-jelekkan lagi dengan tragedi pengeboman?

Manusia nggak punya otak dasar emang.

Kenapa kalian pikir nyawa manusia semurah itu sih?

Otak kalian itu yang murah nggak ada harganya. Orang bego.

Friday, July 17, 2009

Sakit memang membuat kita bodoh

Tadi saya berniat posting kisah beberapa hari ini, yang sudah saya tulis panjang lebar, dan saya tekan cancel dengan bodohnya.

Saya menyalahkan sakit yang sedang saya derita beberapa hari ini atas keidiotan ini.

Damn.

Saturday, July 11, 2009

Sukaaaa

Senang.
Hidup itu indah.

Norak mode: ON

Friday, July 10, 2009

Kisah punya raider sipit

Dengan niat mulia ingin menjadi WNI yang baik dengan berpartisipasi dalam Pilpres 2009, saya memutuskan untuk pulang kampung pada tanggal 8 Juli 2009. Itu niat mulia saya yang pertama. Niat mulia saya yang kedua adalah untuk mengurus pembaruan kartu ATM saya yang expired pada bulan Juli tahun 2009 ini. Demi kelangsungan kehidupan keuangan saya ke depannya, semakin mantap saya membeli tiket kereta untuk hari Selasa malam, tanggal 7 Juli 2009. Tiket kereta Lodaya Malam seharga 110 ribu rupiah yang akan berangkat pada pukul 20.00 WIB.

Sebenarnya saya sedang malas berlama-lama di rumah, karenanya saya memutuskan untuk pulang ke rumah Selasa malam dan akan kembali lagi ke Bandung pada Kamis malam, dengan alibi ke si Bos ada kuliah di hari Jumat pagi. Baiklah, itu jawaban si Bos waktu saya mengutarakan alasan kenapa saya hanya akan berada sebentar di rumah. Kelanjutannya adalah saya diomeli karena belum juga membeli tiket kereta padahal itu sudah hari Minggu. Si Bos mengoceh panjang lebar, menyuruh saya untuk segera membeli tiket kereta, karena Si Bos memang adalah seorang Mr. Perfeksionis yang takut saya kehabisa tiket kalau tidak buru-buru membeli. Sumpah, entah kenapa rasanya saya malas sekali pergi ke stasiun untuk membeli tiket ini. Namun tampaknya takdir mendukung Si Bos saya itu sepenuh hati dengan menakdirkan sebuah kejadian tolol menimpa saya pada Senin pagi.

Senin, 6 Juli 2009, jadwal kuliah Hidrografi jam 07.30 pagi. Seperti biasa, saya menunggu jemputan tung2 bersama Jco pagi itu. Sebelumnya, saya sudah meng-sms Jco menanyakan apakah dia sudah bangun? Sms itu dibalas dengan mantap bahwa dia sudah bangun. Oke, saya lalu mandi dan menunggu jemputan Jco untuk berangkat kuliah. Tiba-tiba, sudah jam 07.30, dan jemputan saya belum juga datang. Saya sms lagi si Jco ini, menanyakan keberadaannya. Dijawab lagi dengan mantap, bahwa dia ketiduran lagi saat akan berangkat mandi, ketiduran dengan memegang handuk. Mantap sekali raider saya yang sipit ini memang. Jadilah jam 8 kurang saya dan Jco baru sampai kampus, mendapati pintu kelas sudah ditutup, yang itu berarti sudah tidak boleh ada mahasiswa terlambat yang masuk. Adegan selanjutnya adalah Jco terus menerus meminta maaf atas insiden yang terjadi hari ini karena dia ketiduran lagi. Ah, saya sebenarnya tidak masalah sama sekali. Malahan, karena tidak masuk kuliah ini, akhirnya saya mengajak Jco ke stasiun untuk menemani saya membeli tiket. Yap, akhirnya tiket kereta untuk pulang sudah berada di tangan.

Keesokan harinya, Selasa, 7 Juli 2009, jadwal kuliah Hidrografi lagi untuk jam yang sama pula, 07.30 pagi. Berencana agar jangan sampai insiden raider saya si Jco ketiduran lagi, saya lalu meneleponnya jam setengah 7. Tidak diangkat. Saya pikir, ah masih pagi, nanti saya telepon lagi saja. Lalu saya mandi dan bersiap-siap. Selesai mandi, saya sms Jco, dan kembali meneleponnya. Tidak dibalas, tidak diangkat. Nah, saya mulai panik. Sudah jam 07.15. Akhirnya saya meng-sms Kazam, minta tolong dijemput karena Jco tak kunjung bangun. Dibalas olehnya, katanya dia juga mau menjemput Mami, setelah menjemput dan mengantar Mami ke kampus baru dia akan menjemput saya. Wow, itu kan artinya dia harus bolak-balik. Jadilah saya bilang tidak usah saja kalau begitu, daripada dia bolak-balik. Saya pun memutuskan untuk berangkat naik angkot. Dalam perjalanan dari kamar ke gerbang kosan, saya masih berusaha menelepon JCo. Tepat waktu saya mau membuka gembok pagar, telepon saya diangkat! Dengan tenangnya Jco bicara, kenapa os? lagi mandi tadi..ini mau berangkat sekarang ke kosan lo.
Yeah, great. Ternyata raider yang saya cemaskan sepagian ini hanya sedang mandi. Jadilah saya aman berangkat ke kampus dengan tung2 dan Jco.

Malamnya, jadwal saya untuk balik kampung. Jco sudah mengiyakan untuk mengantar saya ke stasiun malam ini. Jadilah sekitar jam 7 lebih saya meng sms Jco untuk segera mengantar saya ke stasiun. Tidak dibalas. Saya telepon. Tidak diangkat. Saya telepon lagi. Tidak diangkat lagi. Saya telepon lagi. Tidak diangkat lagi. Terus kejadian ini berulang. Menjelang jam setengah 8 saya mulai panik. Terpikir untuk minta diantarkan orang lain. Tapi kejadian tadi pagi membuat saya berpikir ulang, rasanya saya percaya sama raider saya itu. Ditambah rasa tidak enak juga sebelumnya saya minta diantarkan oleh Jco, eh tiba-tiba seenaknya minta jemput sama orang lain. Baiklah, saya akhirnya masih terus menelepon Jco.
Sampai klimaksnya, jam 07.45, telepon saya masih belum diangkat. Dengan panik, saya minta diantarkan Meng ke stasiun. Meng pun mengiyakan, maka saya menunggu jemputan Meng di luar. Cukup lama, datanglah Meng dan Mami dengan 2 motor. Langsung saya membonceng Mami dan kami bertiga meluncur ke stasiun. Di perjalanan barulah Jco menelepon dan meng sms saya. Yap, dia ketiduran dan baru bangun. Karena panik akan ketinggalan kereta, telepon dan sms Jco tidak saya hiraukan. Di tengah perjalanan, kami terhambat karena ada kereta lewat. Bertiga kami saling berpandang-pandangan saat saya berucap, "jangan-jangan ini kereta gw?"
Dan benar saja, setelah sampai di stasiun, langsung saya bertanya ke si penjaga gerbang, "Lodaya udah berangkat Pak?". Dijawab dengan bangga oleh si penjaga gerbang, "Oh, udah Mbak, baru saja, kan berangkatnya TEPAT WAKTU"
Yeah, dia benar-benar menekankan kata-kata TEPAT WAKTU itu. Saya hanya tersenyum saja lalu keluar menemui Meng dan Mami. Resmilah saya ketinggalan kereta, untuk pertama kalinya.

Jadilah Selasa malam, 7 Juli 2009, dimana saya harusnya sedang berada di kereta untuk pulang kampung, saya malah bermain dengan teman-teman. Teman-teman yang saya maksud : Mami, Kazam, Jco, Meng, Madox, dan Lendy. Setelah akhirnya bertemu Jco, tak henti-hentinya dia minta maaf sampai membuat saya tak enak hati sendiri. Awalnya jelas saya bete, tapi toh keretanya memang sudah jalan dan tidak mungkin menjemput saya kembali. Lagipula, setengahnya juga adalah kesalahan saya yang tidak meminta diantarkan oleh Meng lebih awal. Jadi berkali-kali Jco bilang maaf, berkali-kali pula saya bilang gapapa. Jco bilang,"mending lo marah Os, lebih ga enak jadinya kalo lo ga marah". Nah kan, saya jadi semakin bingung. Karena saya emang tidak marah, saya biasa saja sumpah. Yang paling saya takutkan cuma omelan Si Bos. Dan setelah omelan itu saya dapatkan malam itu juga, ya saya merasa semua baik-baik saja. Jadilah Si Bos menyuruh saya untuk pulang besok pagi dengan kereta Lodaya Pagi yang berangkat jam 8 pagi. Baiklah. Ketinggalan kereta memang tidak seburuk itu sampai saya merasa harus marah kok.

Kami lalu berncana untuk menonton Ice Age, yang ternyata setelah kami datangi XXI Ciwalk langsung, ternyata tidak ada jadwal midnite-nya. Bingung harus pergi kemana, kami nongkrong lama di parkiran motor, berpikir akan pergi kemana untuk menghabiskan sisa malam itu. Akhirnya, Lendy mengusulkan sebuah tempat di daerah atas untuk melihat city light Bandung. Hooo? Daerah atas? Sekedar informasi, malam itu saya berpakaian untuk menyiapkan diri kepanasan di atas kereta, karean itu saya memakai celana pendek. Celana benar-benar pendek, yang kalau Meng bilang, "Paha lo ngeliatin gw Os, bukan gw ngeliatin paha lo".
Resmilah saya saltum malam itu. Sepanjang perjalanan dinginnya minta ampuuuuuuun. Berusaha menghangatkan diri dengan terus bernyanyi bersama Kazam di atas shiro yang sedang berjuang keras melewati medan menanjak di sepanjang perjalanan. Eh serius loh, menyanyi memang bisa menghangatkan diri! Dan setelah menempuh medan yang sangat berat dan sangat dingin, sampailah kami di atas. Pemandangan city light yang SUPEEEEER BAGUS!
Bagusnya paraaaaaaaaaaaaaaaaaaah...
Bersyukurlah saya ketinggalan kereta, kalau imbalannya adalah pemandangan indah seperti ini. Hahahahaa

Sepulangnya, saya dan Jco memutuskan bahwa kami harus tetap bersama menghabiskan sisa malam ini sampai pagi menjelang, karena Jco yang akan mengantarkan saya ke stasiun pagi-pagi, membeli tiket yang semoga belum habis dan langsung pulang. Jco sudah berniat tidak akan tidur malam ini, supaya tidak terulang lagi kesalahan yang sama seperti sebelumnya. Jadilah saya, Jco, Mami, Meng, dan Kazam pulang ke beskem sekitar jam setengah 3 pagi. Sampai di beskem, Mami dan Meng langsung tertidur pulas. Jco yang memang berniat tidak tidur bermain komputer. Saya yang malah jadi merasa tidak enak, berniat menemani Jco untuk tidak tidur. Jadilah kami bertiga, saya, Jco, dan Kazam tidak tidur.

Rabu, 8 Juli 2009. Jam 06.30 saya dan Jco berangkat ke stasiun, sementara Kazam pulang ke kontrakannya. Kembali menempuh perjalanan dengan kedinginan yang amat sangat. Maafkan saya malah membuatmu kedinginan lagi ya Co. Sampai di stasiun, dapat tiket, dan pulang lah saya. Akhirnya...

Jadilah kepulangan saya kali ini hanya meluluskan satu tujuan mulia, yaitu mengurus ATM. Niat saya menjadi WNI yang baik ternyata tidak terpenuhi, karena saya sampai kampung halaman sore hari, dimana TPS sudah tutup jam kerjanya. Sayang sekali. Saya harus menunggu 5 tahun lagi untuk menjadi WNI yang baik.

@Jco : Punya raider sipit kaya kamu emang banyak tantangan dan cobaannya Co! Hahahaha

Sunday, July 5, 2009

It's a Farewell for you, dear friend...

Sabtu malam, 4 Juli 2009, aku dan Mami merayakan Malam Minggu Kelabu kami di ciwalk. Sabtu itu adalah hari berduka, dan kami berencana untuk menghabiskan malam berdua dengan menonton suatu film di XXI, sekedar untuk meringankan pikiran yang seharian itu seperti mati enggan hidup pun tak mau. Sabtu sore itu kami bersepakat, ada yang aneh dengan hari ini. Hari ini telah membuat otak kami seakan tidak bisa bekerja dengan sempurna, katakanlah ada dua orang linglung saat itu. Setelah mengalami hari yang rasanya panjang dimana kami kehilangan seorang teman untuk selama-lamanya, rasanya kami benar-benar tidak tahu harus melakukan apa lagi, mau bersedih rasanya lelah, sementara mau bersenang-senang rasanya tidak etis untuk dilakukan di suatu hari duka seperti itu.

Yah, dan memang benar seharusnya kami tidak bersenang-senang, karena tiket nonton film komedi yang kami ingin tonton malam itu ternyata sold out. Masih dengan linglung kami keluar dari bioskop, dan tak tahu akan melakukan apa.

Jadilah, kami mengikuti kemana kaki berjalan di seputaran Ciwalk. Pertama kami memutuskan untuk makan. Tak bernafsu untuk makan apapun, jadilah kami sembarang memilih tempat untuk makan. Asal bisa menjadi tempat kami bercengkrama menghabiskan waktu rasanya sudah cukup. Terpilih lah Cafe Oh Lala, dimana aku akan puas minum kopi, satu hal yang rasanya hari ini sangat kubutuhkan. Yeah, rasanya lama-lama aku semakin mencandui kafein, sial. Kami makan, kami mengobrol.

Mami banyak bercerita malam itu. Segala sesuatu hal yang berhubungan dengan teman kami yang pergi hari ini. Mami berbicara tentang kebaikan hati yang pernah didapatnya dari almarhum, berbicara tentang kedekatan mereka dahulu, berbicara tentang perubahan yang cukup menjauhkan mereka setelahnya. Aku sekedar bertindak sebagai seorang pendengar yang baik dalam bagian ini, sambil berusaha mengenang teman kami itu dalam memory ingatanku. Ia yang terbuka atas hidupnya, ia yang tak pernah ragu untuk berbagi dan bercerita panjang lebar tanpa malu-malu tentang hari-hari yang dijalaninya padaku.
Maka perbincangan antara aku dan Mami tentangnya terus berlanjut, kami mengenangnya, dan kami melepaskannya malam itu. Setiap kata dari mulut kami tentang almarhum malam itu merupakan sebentuk farewell dari kami berdua untuknya. Ia yang pernah ada di hidup kami, dengan segala ciri khasnya.

Selesai makan kami kembali berjalan, lalu duduk di salah satu bangku taman depan Embassy, merokok untuk menghangatkan diri, dalam keadaan terdiam satu sama lain. Well, tidak persis terdiam juga sebenarnya. Mami menelpon salah seorang temannya saat itu, mencurahkan isi hatinya yang kacau balau pada hari itu dan bercerita ngalor ngidul. Otomatis, karena kami cuma berdua, aku terbengong-bengong sendirian. Pikiran melayang entah kemana, rasanya kosong. Benar-benar kosong. Melihat logo Embassy di depan mata dan memperhatikan banyak orang di sekeliling kami yang tampaknya sedang menunggu untuk masuk ke Embassy, aku ingat pengalaman pertamaku di tempat seperti itu. Pengalaman yang sangat menarik, dimana aku melakukan apa yang selama ini menjadi sumber kesenanganku pada malam itu. Aku berterima kasih sekali atas malam pertama itu. Karena siapa hal malam itu bisa terwujud? Karena Gustfy. Dia mengajakku dan teman-teman, bukan untuk yang pertama kalinya, tapi malam itu pertama kalinya aku mengiyakan ajakannya. Dan aku menikmati malam itu. Aku berterima kasih atas malam itu, maka aku berterima kasih kepadamu Gust..

Akhirnya malam itu aku dan Mami sepakat untuk menjadikannya sebuah malam Farewell untuknya yang telah pergi, untuk Gustfy yang pernah ada di hari-hari kami. Selamat jalan. Malam itu kami mendoakanmu, dan malam itu kami melepas kepergianmu dengan doa terbaik yang bisa kami lakukan, semoga kamu mendapatkan yang terbaik pula..

Thursday, July 2, 2009

Teori Totalitas

Totalitas itu rasanya memang diperlukan dalam setiap hal yang kita lakukan, bukan begitu?
Jadi rasanya tidak salah kalau seseorang berkata pergi berarti melangkah menjauh dan jangan pernah menoleh ke belakang. Ada benarnya juga seseorang yang percaya bahwa akhir berarti titik dimana jembatan untuk kembali ke belakang sudah tak dapat lagi kau tapaki, dan itu berarti majulah ke depanmu, ke awal yang akan tercipta untukmu.

Tak ada yang salah memang dengan teori itu.
Maka jadilah masa lalu adalah sebuah masa di belakang punggungmu yang baiknya tetap ada di belakang sementara kakimu berjalan maju.

Di atas teori totalitas, move on berarti masa depan, bukan masa lalu.

You said move on,
I think that's just what i'm doing right now..
Where do i go?
Well, i guess i started to find a place to go..