Sunday, July 5, 2009

It's a Farewell for you, dear friend...

Sabtu malam, 4 Juli 2009, aku dan Mami merayakan Malam Minggu Kelabu kami di ciwalk. Sabtu itu adalah hari berduka, dan kami berencana untuk menghabiskan malam berdua dengan menonton suatu film di XXI, sekedar untuk meringankan pikiran yang seharian itu seperti mati enggan hidup pun tak mau. Sabtu sore itu kami bersepakat, ada yang aneh dengan hari ini. Hari ini telah membuat otak kami seakan tidak bisa bekerja dengan sempurna, katakanlah ada dua orang linglung saat itu. Setelah mengalami hari yang rasanya panjang dimana kami kehilangan seorang teman untuk selama-lamanya, rasanya kami benar-benar tidak tahu harus melakukan apa lagi, mau bersedih rasanya lelah, sementara mau bersenang-senang rasanya tidak etis untuk dilakukan di suatu hari duka seperti itu.

Yah, dan memang benar seharusnya kami tidak bersenang-senang, karena tiket nonton film komedi yang kami ingin tonton malam itu ternyata sold out. Masih dengan linglung kami keluar dari bioskop, dan tak tahu akan melakukan apa.

Jadilah, kami mengikuti kemana kaki berjalan di seputaran Ciwalk. Pertama kami memutuskan untuk makan. Tak bernafsu untuk makan apapun, jadilah kami sembarang memilih tempat untuk makan. Asal bisa menjadi tempat kami bercengkrama menghabiskan waktu rasanya sudah cukup. Terpilih lah Cafe Oh Lala, dimana aku akan puas minum kopi, satu hal yang rasanya hari ini sangat kubutuhkan. Yeah, rasanya lama-lama aku semakin mencandui kafein, sial. Kami makan, kami mengobrol.

Mami banyak bercerita malam itu. Segala sesuatu hal yang berhubungan dengan teman kami yang pergi hari ini. Mami berbicara tentang kebaikan hati yang pernah didapatnya dari almarhum, berbicara tentang kedekatan mereka dahulu, berbicara tentang perubahan yang cukup menjauhkan mereka setelahnya. Aku sekedar bertindak sebagai seorang pendengar yang baik dalam bagian ini, sambil berusaha mengenang teman kami itu dalam memory ingatanku. Ia yang terbuka atas hidupnya, ia yang tak pernah ragu untuk berbagi dan bercerita panjang lebar tanpa malu-malu tentang hari-hari yang dijalaninya padaku.
Maka perbincangan antara aku dan Mami tentangnya terus berlanjut, kami mengenangnya, dan kami melepaskannya malam itu. Setiap kata dari mulut kami tentang almarhum malam itu merupakan sebentuk farewell dari kami berdua untuknya. Ia yang pernah ada di hidup kami, dengan segala ciri khasnya.

Selesai makan kami kembali berjalan, lalu duduk di salah satu bangku taman depan Embassy, merokok untuk menghangatkan diri, dalam keadaan terdiam satu sama lain. Well, tidak persis terdiam juga sebenarnya. Mami menelpon salah seorang temannya saat itu, mencurahkan isi hatinya yang kacau balau pada hari itu dan bercerita ngalor ngidul. Otomatis, karena kami cuma berdua, aku terbengong-bengong sendirian. Pikiran melayang entah kemana, rasanya kosong. Benar-benar kosong. Melihat logo Embassy di depan mata dan memperhatikan banyak orang di sekeliling kami yang tampaknya sedang menunggu untuk masuk ke Embassy, aku ingat pengalaman pertamaku di tempat seperti itu. Pengalaman yang sangat menarik, dimana aku melakukan apa yang selama ini menjadi sumber kesenanganku pada malam itu. Aku berterima kasih sekali atas malam pertama itu. Karena siapa hal malam itu bisa terwujud? Karena Gustfy. Dia mengajakku dan teman-teman, bukan untuk yang pertama kalinya, tapi malam itu pertama kalinya aku mengiyakan ajakannya. Dan aku menikmati malam itu. Aku berterima kasih atas malam itu, maka aku berterima kasih kepadamu Gust..

Akhirnya malam itu aku dan Mami sepakat untuk menjadikannya sebuah malam Farewell untuknya yang telah pergi, untuk Gustfy yang pernah ada di hari-hari kami. Selamat jalan. Malam itu kami mendoakanmu, dan malam itu kami melepas kepergianmu dengan doa terbaik yang bisa kami lakukan, semoga kamu mendapatkan yang terbaik pula..

No comments: