Friday, July 10, 2009

Kisah punya raider sipit

Dengan niat mulia ingin menjadi WNI yang baik dengan berpartisipasi dalam Pilpres 2009, saya memutuskan untuk pulang kampung pada tanggal 8 Juli 2009. Itu niat mulia saya yang pertama. Niat mulia saya yang kedua adalah untuk mengurus pembaruan kartu ATM saya yang expired pada bulan Juli tahun 2009 ini. Demi kelangsungan kehidupan keuangan saya ke depannya, semakin mantap saya membeli tiket kereta untuk hari Selasa malam, tanggal 7 Juli 2009. Tiket kereta Lodaya Malam seharga 110 ribu rupiah yang akan berangkat pada pukul 20.00 WIB.

Sebenarnya saya sedang malas berlama-lama di rumah, karenanya saya memutuskan untuk pulang ke rumah Selasa malam dan akan kembali lagi ke Bandung pada Kamis malam, dengan alibi ke si Bos ada kuliah di hari Jumat pagi. Baiklah, itu jawaban si Bos waktu saya mengutarakan alasan kenapa saya hanya akan berada sebentar di rumah. Kelanjutannya adalah saya diomeli karena belum juga membeli tiket kereta padahal itu sudah hari Minggu. Si Bos mengoceh panjang lebar, menyuruh saya untuk segera membeli tiket kereta, karena Si Bos memang adalah seorang Mr. Perfeksionis yang takut saya kehabisa tiket kalau tidak buru-buru membeli. Sumpah, entah kenapa rasanya saya malas sekali pergi ke stasiun untuk membeli tiket ini. Namun tampaknya takdir mendukung Si Bos saya itu sepenuh hati dengan menakdirkan sebuah kejadian tolol menimpa saya pada Senin pagi.

Senin, 6 Juli 2009, jadwal kuliah Hidrografi jam 07.30 pagi. Seperti biasa, saya menunggu jemputan tung2 bersama Jco pagi itu. Sebelumnya, saya sudah meng-sms Jco menanyakan apakah dia sudah bangun? Sms itu dibalas dengan mantap bahwa dia sudah bangun. Oke, saya lalu mandi dan menunggu jemputan Jco untuk berangkat kuliah. Tiba-tiba, sudah jam 07.30, dan jemputan saya belum juga datang. Saya sms lagi si Jco ini, menanyakan keberadaannya. Dijawab lagi dengan mantap, bahwa dia ketiduran lagi saat akan berangkat mandi, ketiduran dengan memegang handuk. Mantap sekali raider saya yang sipit ini memang. Jadilah jam 8 kurang saya dan Jco baru sampai kampus, mendapati pintu kelas sudah ditutup, yang itu berarti sudah tidak boleh ada mahasiswa terlambat yang masuk. Adegan selanjutnya adalah Jco terus menerus meminta maaf atas insiden yang terjadi hari ini karena dia ketiduran lagi. Ah, saya sebenarnya tidak masalah sama sekali. Malahan, karena tidak masuk kuliah ini, akhirnya saya mengajak Jco ke stasiun untuk menemani saya membeli tiket. Yap, akhirnya tiket kereta untuk pulang sudah berada di tangan.

Keesokan harinya, Selasa, 7 Juli 2009, jadwal kuliah Hidrografi lagi untuk jam yang sama pula, 07.30 pagi. Berencana agar jangan sampai insiden raider saya si Jco ketiduran lagi, saya lalu meneleponnya jam setengah 7. Tidak diangkat. Saya pikir, ah masih pagi, nanti saya telepon lagi saja. Lalu saya mandi dan bersiap-siap. Selesai mandi, saya sms Jco, dan kembali meneleponnya. Tidak dibalas, tidak diangkat. Nah, saya mulai panik. Sudah jam 07.15. Akhirnya saya meng-sms Kazam, minta tolong dijemput karena Jco tak kunjung bangun. Dibalas olehnya, katanya dia juga mau menjemput Mami, setelah menjemput dan mengantar Mami ke kampus baru dia akan menjemput saya. Wow, itu kan artinya dia harus bolak-balik. Jadilah saya bilang tidak usah saja kalau begitu, daripada dia bolak-balik. Saya pun memutuskan untuk berangkat naik angkot. Dalam perjalanan dari kamar ke gerbang kosan, saya masih berusaha menelepon JCo. Tepat waktu saya mau membuka gembok pagar, telepon saya diangkat! Dengan tenangnya Jco bicara, kenapa os? lagi mandi tadi..ini mau berangkat sekarang ke kosan lo.
Yeah, great. Ternyata raider yang saya cemaskan sepagian ini hanya sedang mandi. Jadilah saya aman berangkat ke kampus dengan tung2 dan Jco.

Malamnya, jadwal saya untuk balik kampung. Jco sudah mengiyakan untuk mengantar saya ke stasiun malam ini. Jadilah sekitar jam 7 lebih saya meng sms Jco untuk segera mengantar saya ke stasiun. Tidak dibalas. Saya telepon. Tidak diangkat. Saya telepon lagi. Tidak diangkat lagi. Saya telepon lagi. Tidak diangkat lagi. Terus kejadian ini berulang. Menjelang jam setengah 8 saya mulai panik. Terpikir untuk minta diantarkan orang lain. Tapi kejadian tadi pagi membuat saya berpikir ulang, rasanya saya percaya sama raider saya itu. Ditambah rasa tidak enak juga sebelumnya saya minta diantarkan oleh Jco, eh tiba-tiba seenaknya minta jemput sama orang lain. Baiklah, saya akhirnya masih terus menelepon Jco.
Sampai klimaksnya, jam 07.45, telepon saya masih belum diangkat. Dengan panik, saya minta diantarkan Meng ke stasiun. Meng pun mengiyakan, maka saya menunggu jemputan Meng di luar. Cukup lama, datanglah Meng dan Mami dengan 2 motor. Langsung saya membonceng Mami dan kami bertiga meluncur ke stasiun. Di perjalanan barulah Jco menelepon dan meng sms saya. Yap, dia ketiduran dan baru bangun. Karena panik akan ketinggalan kereta, telepon dan sms Jco tidak saya hiraukan. Di tengah perjalanan, kami terhambat karena ada kereta lewat. Bertiga kami saling berpandang-pandangan saat saya berucap, "jangan-jangan ini kereta gw?"
Dan benar saja, setelah sampai di stasiun, langsung saya bertanya ke si penjaga gerbang, "Lodaya udah berangkat Pak?". Dijawab dengan bangga oleh si penjaga gerbang, "Oh, udah Mbak, baru saja, kan berangkatnya TEPAT WAKTU"
Yeah, dia benar-benar menekankan kata-kata TEPAT WAKTU itu. Saya hanya tersenyum saja lalu keluar menemui Meng dan Mami. Resmilah saya ketinggalan kereta, untuk pertama kalinya.

Jadilah Selasa malam, 7 Juli 2009, dimana saya harusnya sedang berada di kereta untuk pulang kampung, saya malah bermain dengan teman-teman. Teman-teman yang saya maksud : Mami, Kazam, Jco, Meng, Madox, dan Lendy. Setelah akhirnya bertemu Jco, tak henti-hentinya dia minta maaf sampai membuat saya tak enak hati sendiri. Awalnya jelas saya bete, tapi toh keretanya memang sudah jalan dan tidak mungkin menjemput saya kembali. Lagipula, setengahnya juga adalah kesalahan saya yang tidak meminta diantarkan oleh Meng lebih awal. Jadi berkali-kali Jco bilang maaf, berkali-kali pula saya bilang gapapa. Jco bilang,"mending lo marah Os, lebih ga enak jadinya kalo lo ga marah". Nah kan, saya jadi semakin bingung. Karena saya emang tidak marah, saya biasa saja sumpah. Yang paling saya takutkan cuma omelan Si Bos. Dan setelah omelan itu saya dapatkan malam itu juga, ya saya merasa semua baik-baik saja. Jadilah Si Bos menyuruh saya untuk pulang besok pagi dengan kereta Lodaya Pagi yang berangkat jam 8 pagi. Baiklah. Ketinggalan kereta memang tidak seburuk itu sampai saya merasa harus marah kok.

Kami lalu berncana untuk menonton Ice Age, yang ternyata setelah kami datangi XXI Ciwalk langsung, ternyata tidak ada jadwal midnite-nya. Bingung harus pergi kemana, kami nongkrong lama di parkiran motor, berpikir akan pergi kemana untuk menghabiskan sisa malam itu. Akhirnya, Lendy mengusulkan sebuah tempat di daerah atas untuk melihat city light Bandung. Hooo? Daerah atas? Sekedar informasi, malam itu saya berpakaian untuk menyiapkan diri kepanasan di atas kereta, karean itu saya memakai celana pendek. Celana benar-benar pendek, yang kalau Meng bilang, "Paha lo ngeliatin gw Os, bukan gw ngeliatin paha lo".
Resmilah saya saltum malam itu. Sepanjang perjalanan dinginnya minta ampuuuuuuun. Berusaha menghangatkan diri dengan terus bernyanyi bersama Kazam di atas shiro yang sedang berjuang keras melewati medan menanjak di sepanjang perjalanan. Eh serius loh, menyanyi memang bisa menghangatkan diri! Dan setelah menempuh medan yang sangat berat dan sangat dingin, sampailah kami di atas. Pemandangan city light yang SUPEEEEER BAGUS!
Bagusnya paraaaaaaaaaaaaaaaaaaah...
Bersyukurlah saya ketinggalan kereta, kalau imbalannya adalah pemandangan indah seperti ini. Hahahahaa

Sepulangnya, saya dan Jco memutuskan bahwa kami harus tetap bersama menghabiskan sisa malam ini sampai pagi menjelang, karena Jco yang akan mengantarkan saya ke stasiun pagi-pagi, membeli tiket yang semoga belum habis dan langsung pulang. Jco sudah berniat tidak akan tidur malam ini, supaya tidak terulang lagi kesalahan yang sama seperti sebelumnya. Jadilah saya, Jco, Mami, Meng, dan Kazam pulang ke beskem sekitar jam setengah 3 pagi. Sampai di beskem, Mami dan Meng langsung tertidur pulas. Jco yang memang berniat tidak tidur bermain komputer. Saya yang malah jadi merasa tidak enak, berniat menemani Jco untuk tidak tidur. Jadilah kami bertiga, saya, Jco, dan Kazam tidak tidur.

Rabu, 8 Juli 2009. Jam 06.30 saya dan Jco berangkat ke stasiun, sementara Kazam pulang ke kontrakannya. Kembali menempuh perjalanan dengan kedinginan yang amat sangat. Maafkan saya malah membuatmu kedinginan lagi ya Co. Sampai di stasiun, dapat tiket, dan pulang lah saya. Akhirnya...

Jadilah kepulangan saya kali ini hanya meluluskan satu tujuan mulia, yaitu mengurus ATM. Niat saya menjadi WNI yang baik ternyata tidak terpenuhi, karena saya sampai kampung halaman sore hari, dimana TPS sudah tutup jam kerjanya. Sayang sekali. Saya harus menunggu 5 tahun lagi untuk menjadi WNI yang baik.

@Jco : Punya raider sipit kaya kamu emang banyak tantangan dan cobaannya Co! Hahahaha

8 comments:

mAmIE~ said...

we o we
makanya jco suruh oprasi dulu biar g sipit
hahahahahaha
biar g tdor mulu kerjaannya
betewe
hahahahahaha lg deh

Ossy Maulita said...

Ah saya menerima Jco dengan apa adanya kok.. Termasuk dengan segala efek samping dari kesipitannya itu..
Huehehehe

ayu sri redjeki wulandari said...

jCo sopo ci??? ayo klarifikasiiiiiiii!!!!

Ossy Maulita said...

heah casa noraaaaak!
Pake klarifikasi segalaaaa.... Berasa artis kan gw jadinya, hahahaha
Kan udah ditulis sayaaang... Jco itu raider gw...
Seorang mahasiswa Geodesi yang meminjam Tung2 dan menjadi Ossy Raider...
Begituuu...
Mikir yang enggak2 kan lo pasti??
Hahahahaha

ayu sri redjeki wulandari said...

iyaaa. gw kira pacar baru looo. uaahh dasar. awas aja lo kalo jadian gak cerita2. tak sate looo.. huahuaaahuah

Ossy Maulita said...

wah ya ga mungkin lah cas gw jadian ga pamer pameeeeer! ta kenalin ke seluruh dunia lah pasti kalo saya ada cowo baru....hahahhaha
(jangan2 gara2 niat pamer berlebih ini makanya gw ga punya cowo baru juga, huks)

s h e i y said...

ossy! aku link yak blognya!

Ossy Maulita said...

wah monggo jeng sheiy..