Saturday, July 18, 2009

Saya hobi kejedot, sementara Si Bos paranoid

Ceritanya saya sedang sakit. Dimulai sejak hari Selasa yang lalu, dimana saya mulai merasa badan saya panas melebihi panasnya orang normal. Cuek, hari itu saya masih beraktifitas seperti biasa. Siangnya, saya, Mami, dan Ramdit keliling Bandung naik motor untuk kembali mencari rumah kontrakan. Siang itu kami mengunjungi satu rumah kontrakan di daerah Dago Pojok. Begitu sampai ke rumah yang dimaksud, kami bertiga disambut seorang wanita yang menginformasikan bahwa si empunya rumah sedang di lantai atas. Dari sinilah tragedi dimulai.

Dasarnya saya gampang pusing, badan panas sedikit saja akan langsung berimbas langsung ke kepala saya, dimana saya akan mulai merasa dunia berputar, badan lemas, lalu tidak dapat berkonsentrasi saat berjalan. Merasa masih dalam taraf baik-baik saja, saya pun melangkah menuju tangga untuk ke atas menemui si empunya kosan. Melangkah dengan pede, berusaha tidak memikirkan pusing dan panasnya badan saya. Dan tiba-tiba, di tengah-tengah tangga, saya yang tidak fokus gagal melihat sebuah tembok persis di depan saya. Dan... yang terjadi selanjutnya adalah, saya kejedot dengan suksesnya. Bukan pertama kalinya memang saya kejedot, tapi seingat saya, ini salah satu yang terkeras yang pernah saya alami.

Benar-benar keras, benar-benar sakit, dan membuat saya benar-benar menangis deras sampai sesenggukan saking sakitnya. Sialun.

Setelah tragedi itu, suhu badan saya berangsur-angsur semakin tinggi sampai taraf yang menurut teman-teman saya mengkhawatirkan. Malam harinya tidur saja bahkan saya tidak nyenyak. Berulang kali terbangun, sampai ngelindur memanggil emak saya. Dasar anak durhaka memang. Kalau sakit saja baru ingat emak. Akhirnya, setelah melalui perjuangan yang berat melewati malam yang sangat menyiksa itu, selamatlah saya membuka mata di hari Rabu pagi.

Rabu siang saya akhirnya berangkat ke dokter dengan niat mulia ingin cepat sembuh dengan diantar asisten pribadi saya (Hohohoooo). Setelah diperiksa panas badan saya memang sangat tinggi dan leukosit saya turun. Dokter menyarankan untuk istirahat total dan melihat kondisi 2 atau 3 hari lagi, dimana kalau masih panas saya harus kembali cek ke dokter.

Jadilah hari Jumat panas saya sudah turun, menyisakan rasa mual dan pusing kalau berjalan jauh saja. Namun setelah berdiskusi dengan asisten pribadi saya tersayang itu, akhirnya diputuskan Sabtu pagi saya akan kembali mengunjungi dokter dengannya untuk mengecek keadaan saya. Oke.

Tiba-tiba Jumat sore itu Si Bos menelepon.
Bos : "Gimana rumah kontrakannya udah dapet?"
Saya : "Belum Pa, temen-temenku masih nyari, belum dapet yang pas"
Bos : "Loh? Kok temen-temenmu? Kamu juga ikut nyari lah"
Saya : "Aku sakit Pa, suruh istirahat sama Dokter. Kemarin badanku panas"
Bos : "Heh?? Panas?? Berapa kemarin panasnya?? Kapan kamu ke dokter?? Ada termometer nggak kamu di kos?? Cepetan dicek lagi sekarang udah turun belum itu!"
Saya : (Shock) "Kemarin Rabu ke dokternya. Udah turun kok sekarang panasnya, tinggal mual sama lemes aja"
Bos : "Jangan nyepelein itu kamu! Kapan ke dokter lagi?? CEk dokter lagi! Kalau FLU BABI gimana coba!! Nanti malam Papa ke Bandung! Besok kita ke dokter! Jangan banyak gerak kamu. Diem aja di kasur!"
Saya : (Super Shock)

Setelah periksa ke dokter untuk kedua kalinya di hari Sabtu ini dengan Si Bos yang baru saja sampai di Bandung, ternyata dokter tidak menyinggung sama sekali kalau saya ada kemungkinan terkena flu babi. Cuma sekedar gejala tifes.
Baiklah. Si Bos saya itu memang paranoid.

No comments: