Saturday, December 11, 2010

Mother Father-Daughter

Senin siang, tanggal 6 Desember 2010, Mama saya tiba-tiba menghubungi dan bilang kalo beliau, dan Papa, sedang berada di Jakarta dan dalam 2 atau 3 jam lagi akan sampai di Bandung untuk mengunjungi saya. Datang secara tiba-tiba ke Bandung memang hal yang cukup sering dilakukan oleh kedua orang tua saya, jadi saya tidak bertanya-tanya. Saya juga tidak bertanya-tanya sedang apa mereka berdua di Jakarta di hari kerja seperti ini, karena saya sudah berasumsi mereka di Jakarta untuk kondangan, dimana hal ini juga sudah sering mereka lakukan.
Sampai sini saya sudah tidak mengetahui 2 hal : Saya tidak tahu kalau orang tua saya ke Jakarta, dan saya tidak tahu kalau hari itu mereka akan datang ke Bandung.

Sesampainya di Bandung, baru saya tahu kalau ternyata mereka ke Jakarta karena Mama saya sakit dan selama seminggu diopname di rumah sakit. Seminggu, dari hari Minggu tanggal 28 November 2010.
Sampai sini sudah bertambah 1 hal yang tidak saya ketahui : Ternyata Mama saya sakit.

Orang tua saya bilang, mereka sengaja tidak memberitahu saya karena saya sedang dalam masa UAS. Jadi, semua orang di keluarga besar saya tahu, banyak yang datang menjenguk ke Jakarta, dan tidak ada satupun yang buka mulut untuk memberitahu saya. Ibu siapa sih beliau? Seingat saya beliau masih Ibu saya, tapi saya bahkan tidak tahu beliau sakit sementara saudara-saudara saya tahu semuanya. Kakak saya tahu, tante-tante saya tahu, om-om saya tahu, bahkan sepupu-sepupu saya tahu.
Jadi bertambah lagi ketidaktahuan saya : Ternyata keluarga saya pintar menyembunyikan sesuatu.

Apa lagi yang saya tidak tahu?
Apa lagi yang kita tutup-tutupi selama ini?
Hai, keluarga?

Tapi karena semua ini, saya tahu beberapa hal.
Pertama, saya tahu dan semakin sadar bahwa Mama saya sudah tua sekarang, dan bertambah tua di setiap harinya. Semakin tua umur seseorang, kesehatannya tentu juga akan semakin menurun. Beliau lahir tahun 1950. Saya lahir tahun 1989, hitung umur berapa beliau melahirkan saya. Dari saat saya lahir saja beliau sudah cukup tua, apalagi 20 tahun setelahnya.
Kedua,saya tahu dan semakin sadar betapa mereka sangat peduli pada saya (atau pada pendidikan saya?) sampai-sampai tidak memberitahukan kalau Mama sakit.
Ketiga, saya tahu dan semakin sadar bahwa saya bukanlah seorang anak yang akan dengan rajinnya setiap hari menelepon atau mengirimkan sms untuk menanyakan kabar kedua orang tua saya. Bahkan saya hampir tidak pernah menghubungi mereka lebih dulu. Tapi, saya peduli. Sungguh. Saya sayang kalian, dan ingin kalian diberkahi umur panjang dalam kesehatan, meskipun saya tak mengatakannya secara langsung.

Jadi tolong, jangan buat saya cemas. Dan jangan jadikan saya orang terakhir yang mengetahui keadaan kalian. Karena walaupun tidak bertanya secara langsung, bukan berarti saya tidak peduli. Semoga kalian merasakannya.

No comments: