Sunday, May 8, 2011

The End

Beberapa waktu yang lalu saya baru saja berdebat dengan salah seorang teman, mengenai ending yang baik dari sebuah film. Apakah lebih baik jika film ditutup dengan happy ending, atau akan lebih menarik jika film ditutup dengan sad ending?

Ceritanya, teman saya itu lebih memilih happy ending sementara saya lebih memilih jika suatu film diakhiri dengan kisah sad ending.

Menurut teman saya, kehidupan kita sebagai manusia dalam dunia nyata itu sudah cukup pelik, jadi tidak perlu lah menambah kepelikan hidup ini dengan peliknya hidup orang lain di dalam film yang ditutup dengan sad ending.
Menurut saya, sepelik apapun hidup kita di dunia nyata tidak akan dapat menyaingi kepelikan hidup si pemain di film-film yang kita tonton. Karena film dibuat, seringkali, bukan untuk menceritakan sesuatu yang standar dan biasa-biasa saja. Ibaratnya kalau di dunia saya kesusahan hidup disebut dengan kata pelik, maka di dalam film kesusahan hidup disebut dengan peliks. Peliks menandakan sesuatu yang jamak, pelik yang berkali-kali lipat lebih pelik. Jadi, setelah melihat yang peliks di dalam film pasti kita akan melihat pelik yang ada dalam kehidupan nyata sebagai sesuatu yang bukanlah apa-apa.

Menurut teman saya, apa gunanya menonton film yang justru malah membuat depresi dan ingin bunuh diri setelah menontonnya?
Menurut saya, justru itulah realitanya. Happy ending seringkali malah membuat kita merasa hidup di dunia mimpi, sementara sad ending akan menahan kaki kita di realita, menahan kita untuk tidak bermimpi yang aneh-aneh.

Pada akhirnya, saya dan teman saya itu toh sama-sama tahu kalau itu cuma masalah selera pribadi masing-masing. :))

Bagian paling penting dari semuanya adalah menyadari kalau saya mengenal orang yang benar-benar berbeda dengan saya, dan justru itulah yang menjadikan komunikasi jadi menyenangkan!

1 comment:

Dominikus Damas said...

no no no, happy ending tetap yang terbaik. *manggut manggut