Friday, September 30, 2011

Mission Failed

Besok, saya akan pulang kampung untuk beberapa hari.
Keperluan paling utama adalah untuk fitting kebaya yang saya jahit di kampung halaman.
Kebaya wisuda.

Wisuda. 29 Oktober 2011.
Sungguh ini saat yang paling saya nantikan selama beberapa tahun ke belakang.
Beberapa tahun ke belakang sejak saya memiliki kamu.
Iya, kamu.
Saya tidak peduli dengan kamu datang memberi saya bunga atau apapun di hari saya wisuda.
Saya cuma peduli dengan kamu yang akhirnya akan bertemu beliau beliau yang saya sayangi itu.
Saya menyimpan kamu sekian tahun, dan saya yakin ini akan jadi hari baik untuk kamu.

Pulang. 30 September 2011.
Memang tidak dapat dipastikan, tapi terkadang beliau beliau yang saya sayangi itu tiba-tiba melontarkan pertanyaan aneh setiap saya di rumah.
Pertanyaan soal kamu.
Iya, kamu.
Kalau besok, selama beberapa hari di rumah pertanyaan itu tiba-tiba terlontar, apa yang harus saya jawab?
Saya harus menjawab karena saya tidak bisa menjadi anak yang baik?
Karena salah saya yang tidak bisa menjadi anak yang diidamkan?
Karena saya yang telah beliau beliau didik selama ini ternyata berkembang dengan mengecewakan dengan gagal mengambil hati beliau beliau yang lain?
Apa saya harus memberi jawaban yang menyiratkan kalau beliau beliau telah mendidik anak yang salah?

Menurutmu, jawaban mana yang terbaik yang tidak terlalu mengecewakan?
Iya, saya bertanya ke kamu.

Thursday, September 22, 2011

Here comes the hardest part of all

Let me tell you what the hardest part is :

I did believe in us.
I believed in our path,and i fight for it.
I had lot of thoughts, lot of dreams, with you on it.
That's how much i believed in us.

Thursday, September 8, 2011

2 - 7 September 2011

Saya, sama dengan orang-orang lain, sungguh tidak bisa membayangkan apa rasanya menjadi kamu.
Saya mungkin tidak akan pernah bisa mengerti karena tidak berada dalam posisi yang sama denganmu, jadi sebelumnya saya minta maaf karena tidak bisa ikut berbagi rasa denganmu.
Padahal saya pikir, kalau bisa sedikit saja berbagi pasti bebanmu sudah ringan sekarang.

Tapi saya tahu kamu adalah orang yang kuat.
Saya tahu kamu begitu, dan saya sadar kamu dikelilingi oleh orang-orang hebat yang akan selalu melindungi, membantu, dan menjaga kamu.
Karenanya saya tidak lagi khawatir.
Kamu pasti baik-baik saja.

Satu lagi yang saya tahu,
Melihat kamu tersiksa itu menyebalkan.
Membuat saya sesak nafas.
Membuat saya menjelajahi bandara dan menjambangi beberapa kota seorang diri untuk menggapaimu, untuk memastikan kalau kamu baik-baik saja.

Tapi semalam kamu mulai tertawa.
Dan tadi pagi kamu tersenyum saat melihat saya mengenakan baju baru lalu kita memasak nasi goreng bersama.
Kamu tahu bagaimana perasaan saya?
Lega setengah mati.
Bahagia sampai hampir gila.

Jadi maaf kalau saya tidak bisa mengurangi beban kamu.
Maaf kalau saya tidak bisa ikut berbagi sakit.
Tapi saya pasti selalu ada disini kok.
Memastikan kamu tidak sendirian.
:)

Sunday, September 4, 2011

Time Heals Everything

Kalau ada yang dapat saya pelajari dari Lebaran yang datang setiap tahun, itu adalah kepercayaan bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya. Saya percaya dengan sungguh-sungguh, dan Lebaran yang semakin membaik dari tahun ke tahun membuktikan bahwa saya mempercayai sesuatu yang benar adanya.

Saat menyaksikan seluruh anggota keluarga berkumpul dalam satu ruangan yang sama.
Saat semua menyiapkan makanan dan minuman dengan senyuman.
Saat ayah bertanya "Anak-anak sudah makan?" ke kakak ipar saya.
Saat ketiga keponakan saya duduk bersama dengan eyang kakungnya di depan televisi menonton Shaolin Soccer.
Dan saat ayah saya bertanya "Mas Rian udah berangkat?" kepada saya sesaat sebelum kami semua kembali ke Cilacap dari rumah eyang saya di Solo.

Yes, i do believe that time will heal everything.
:)