Tuesday, January 17, 2012

Imaji

"Kamu ingin turun?"
"Turun? Kemana?"
"Ke tempat seharusnya kamu berada sekarang"
"Kenapa? Aku tak semestinya disini ya?"
"Tempat ini tidak nyata"
"Tidak penting. Bukan itu yang penting"
"Apa yang lebih penting kalau begitu?"
"Disini, tidak terbatas"
"Karena itu disini tidaklah nyata. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua akan hilang. Yang tidak memiliki batasan bukan berarti tidak bisa musnah"
"Ya, aku tahu. Aku tahu ini diluar akal sehat. Aku tahu ini bukan dunia yang sebenarnya. Aku tahu disini tidak ada tanah untuk dipijak. Aku tahu sebesar apapun keinginanku untuk bertahan disini, suatu saat aku akan pergi. Mungkin diusir, mungkin akan ada yang menjemputku, atau mungkin kamu sendiri yang akan menurunkanku ke bawah sana, ke tanah yang bisa dipijak, ke ruangan yang luasnya dapat dihitung karena segalanya terbatas. Aku tahu kok semua itu"
"Semakin cepat semakin baik, bukan begitu pepatah kalian di bawah sana?"
"Tidak, pepatah itu tak berlaku di atas sini. Disini aku mau selamanya. Semakin lama semakin baik kalau memang tidak bisa selamanya"
"Apa gunanya? Toh kamu tahu kamu tak bisa selamanya berada disini"
"Karena ini pelarian terindah yang bisa kami dapatkan. Diantara semua hal nyata di bawah sana, berada di tempat semu di atas sini adalah sebuah pencerahan"
"Saat kamu turun nanti, semuanya akan berakhir"
"Setidaknya aku tahu kalau aku pernah berada disini"

Sepasang sayap terbang menjauh, turun ke bumi.
Sepasang senyum merekah di atas awan, menikmati detik-detik semu yang tidak bisa dimiliki selamanya.

Friday, January 6, 2012

Happy New Year, Happy People :)

Akhir tahun lalu dan awal tahun ini tidak diakhiri dan tidak dimulai dengan terlalu baik sebenarnya.
Saya masih terjebak, saya masih bertanya-tanya, saya masih ingin keluar dan pergi ke tempat jauh.
Tapi saya tahu itu tidak bisa dilakukan.

Saya tidak mengucap kata benci.
Mungkin lebih tepat kalau disebut muak.
Muak akan ketidak cocokan.
Muak akan masalah yang sama yang dimulai dari saya masih menjadi bocah ingusan.
Muak akan keadaan yang tidak bisa begitu saja ditinggalkan.
Muak tapi harus sayang.
Muak tapi harus peduli.

Lalu sedikit demi sedikit semuanya terjawab.
Mengapa saya melakukan ini, mengapa saya melakukan itu.
Mengapa saya menjadi seperti ini, mengapa saya menjadi seperti itu.
Mengapa saya berpikir seperti ini, mengapa saya berpikir seperti itu.
Mengapa saya takut pada ini, mengapa saya takut pada itu.
Buah memang tak jatuh jauh dari pohonnya.
Sesederhana itu saja jawabannya.
Jawaban yang tersedia di ujung jalan, mentok, lalu tidak bisa melangkah lebih jauh lagi kecuali kembali pulang.

Saya pernah menuliskan di otak dan di hati,
Bahwa saya tidak tahu ingin menjadi seperti apa nantinya.
Tapi saya tahu persis tidak ingin menjadi seperti apa.
Namun ternyata itu tidak cukup.
Nyatanya, saya justru semakin menjadi apa yang tidak saya inginkan.

Mau menyalahkan siapa kalau sudah begitu?