Wednesday, June 13, 2012

Mission Failed (2)

Life is all about trial and error, right?
Kita mencoba melakukan sesuatu, dan mungkin, kalau kita cukup beruntung dan diberkahi, pada akhirnya kita sukses melakukannya.
Kalau kurang beruntung?
Gagal lalu coba lagi.
Begitu saja kan pada intinya?

Salah satu bentuk trial and error ini tak lain dan tak bukan, adalah pacaran.
Pacaran, atau menjalin hubungan dengan orang lain, atau beradaptasi untuk hidup bersama orang lain, whatever you named it.
Dan, namanya juga trial and error. Termasuk hal yang wajar kan berarti kalau gagal?

Masalahnya adalah, terkadang kalau kita gagal dalam hal ini, sama seperti kalau gagal dalam setiap hal lainnya di kehidupan, mencoba lagi adalah suatu frasa yang sangat sulit untuk diwujudkan.
Yah, setidaknya untuk beberapa orang.
Lucky to say, i'm not one of those guys.
Saya, bukan perempuan yang akan menangis seminggu penuh sampai tidak mau makan saat patah hati.
Sehari semalam rasanya sudah lebih dari cukup untuk saya menangis karena putus cinta.
Saya juga bukan perempuan yang akan menyimpan sakit hati pada mantan kekasih lalu bertingkah seakan tak saling kenal karena baru saja putus cinta.
Hell no.
Kenapa? Karena ego saya terlalu besar. 

Dia pikir dia siapa sampai bisa membuat saya menangis berhari-hari sambil mengurung diri?
Dia pikir dia siapa sampai bisa membuat saya bertingkah canggung sampai harus repot-repot menghindar?
Dia pikir dia siapa, adalah satu kalimat yang sangat ampuh bagi saya.
Jadi, saya tidak percaya dengan patah hati.
Never have, never will.

Tapi saya percaya dengan yang namanya kegagalan.
Kalau kehidupan kita dituliskan dalam sebuah resume atau CV, saya percaya akan ada satu bab khusus untuk menuliskan kegagalan-kegagalan kita.
Dan layaknya saat kita menulis CV, setiap kegagalan itu akan selalu tersimpan dalam resume yang kita buat.
Menurut saya, ini adalah bagian terburuknya.
Bukan masalah hati yang patah, tapi masalah otak yang merekam suatu kegagalan.
Catat ya, putus cinta itu bukan masalah hati tapi masalah otak.
Yah, setidaknya untuk saya sendiri.

Sampai sini saya masih bisa bilang untung saja ego saya besar.
Dia pikir dia siapa bisa meninggalkan luka sekaligus trauma untuk saya bangkit dari kegagalan?
Dia pikir dia siapa bisa menahan saya untuk memulai kembali?
Dia pikir dia siapa bisa membuat hidup saya dibayangi ketakutan akan kegagalan yang pernah saya alami?

Namun ternyata, bayangan kegagalan itu sungguh terlalu berat.
Ternyata, memori kegagalan itu efeknya lebih besar dari patah hati.
Dibalik sikap sok tidak pernah terluka itu, otak saya masih terus berpikir kalau dulu saya pernah gagal dan kemungkinan besar saat mencoba lagi nanti kegagalan itu akan datang kembali.
Keluar tiba-tiba dari balik pohon, dia tersenyum lebar sambil berujar "Hello, finally we meet again".
Tiba-tiba saya mulai ragu akan keajaiban kalimat "Dia pikir dia siapa" yang selama ini saya agungkan.

This idea of failure is waaaaaay too big for me to handle.
Di atas besarnya ego yang saya punya, bayangan kegagalan itu ternyata selalu mengintai.
Bodohnya saya saja yang selalu mengatakan semua baik-baik saja.
Naif.