Tuesday, July 17, 2012

Mau beli rasa aman, dimana?

Dua hari yang lalu, saya menjadi korban tidak langsung dari sebuah aksi penjambretan saat berada di Bandung. Korban tidak langsung, karena saat kejadian tersebut saya berada di TKP namun yang kehilangan harta benda bukan saya melainkan seorang teman yang saat itu sedang bersama saya.

Ceritanya, minggu malam kemarin saya pergi bersama seorang teman. Perempuan, namanya Dinda. Kami pergi keluar dari sore, belanja belanji lalu dilanjutkan makan malam di sebuah restauran yang terletak di Jalan Progo. Selesai makan sekitar jam 9 malam, kami berjalan kaki untuk mencari angkot. Tidak ada angkot yang langsung jalan melewati Jalan Progo memang, karena itu kami harus berjalan lumayan jauh terlebih dahulu menuju jalur angkot.

Malam itu ada dua jalur yang bisa kami pilih. Untuk penghuni Bandung pasti tau dong pertigaan antara Jalan Progo dan Jalan Banda yang ada Jonas Photo itu? Nah, kami bisa memilih untuk belok kiri ke Jalan Riau, atau belok kanan ke jalan di area Gedung Sate (jalan apa sih itu namanya saya lupa?). Pertigaan itu memang gelap dan sepi, mau belok kiri atau belok kanan saat itu sama-sama gelapnya. Akhirnya, karena ragu apakah angkot di Jalan Riau masih beroperasi pada jam setengah 10 malam maka kami memutuskan untuk belok kanan saja menuju ke arah jalan Gedung Sate itu.

Kami berjalan di sisi kiri jalan, dimana saya berjalan di atas trotoar sementara teman saya berjalan di pinggir jalan (jalanan saat itu sudah sepi, jadi teman saya memilih untuk tidak berjalan di trotoar). Kami sedang bercerita panjang lebar sambil berjalan, saat tiba-tiba teman saya berteriak dan tubuhnya hampir terjatuh ke jalan. Saya pikir dia tersandung, namun kemudian saya melihat sepeda motor yang dinaiki oleh 2 orang berada persis di depan teman saya, berusaha menarik tas yang dijinjing oleh teman saya di bahu kanannya.
Shock saya langsung berlari ke arahnya sambil berteriak "Jambret" "Tolong" "Copet" dan entah apalagi. Para penjambret itu berhasil menarik tas teman saya walaupun dia memberi perlawanan. Jelas lah ya, teman saya itu jalan kaki sementara penjambret itu naik motor. Tinggal gas kencang juga pasti teman saya ikut tertarik.
Kami berdua terus berlari mengejar jambret tersebut yang belok kiri di pertigaan. Daerah Jalan Banda ini memang sepi dan gelap, jadi mau kami teriak minta tolong juga siapa yang mau bantu coba? Yah, walaupun sebenarnya saya melihat disitu ada satpam sebuah bank dan sekuriti sebuah penginapan sedang berdiri di pos masing-masing (yang berada di jalur kami mengejar penjambret tersebut sebenarnya), tapi toh mereka tidak bergeming. Cuma menonton saja tanpa ada niatan menolong. Jahat sekali. :(

Setelah menyerah mengejar penjambret itu kami terduduk lesu di trotoar. Singkat cerita, teman saya itu sedih setengah mati karena hampir semua barang berharga seperti HP dan dompetnya ada di tas itu. Saya yang tidak kehilangan apa-apa saja shock setengah mati sampai ikutan panik. Phisically, kami berdua memang tidak terluka. But mentally? Rasanya saya kaget, sedih, dan sekaligus merasa bodoh.

Saya bertanya-tanya, kenapa bisa kejadian itu menimpa kami? Menimpa teman saya? Berbagai spekulasi ada di pemikiran kami berdua.

Mungkin seharusnya di pertigaan Jonas Photo itu kami memilih untuk belok kiri saja menuju Jalan Riau? Ah. Tapi toh jalan itu juga sama saja gelapnya, saya yakin kalaupun kami menempuh jalur itu penjambret yang kemungkinan besar memang sudah mengintai disitu menunggu mangsa juga pasti akan menghampiri kami.

Atau mungkin seharusnya teman saya berjalan di trotoar bersama saya, bukannya di jalanan yang memudahkan penjambret tersebut untuk menarik tasnya sambil lewat begitu saja? Ah. Tapi toh yang namanya aksi itu ada karena niatan kan? Kalau memang penjambret itu berniat merampok kami, walaupun kami berdua berjalan di trotoar bisa saja kan mereka malah nekat untuk turun dari motor dan menodong kami langsung di trotoar? Mungkin bahkan akan mengancam dengan senjata tajam, seperti beberapa berita penodongan yang pernah saya baca. Malah lebih seram lagi kalau begini kejadiannya.

Atau mungkin seharusnya teman saya itu, dan saya, dan semua wanita di Indonesia tidak menggunakan tas jinjing yang memang relatif lebih mudah dijambret paksa dibandingkan kalau menggunakan tas selempang atau bahkan tas gendong? Atau mungkin seharusnya kami para wanita tidak berjalan kaki di malam hari? Ah. Menurut saya sih semuanya tetap kembali ke statement "Ada aksi karena ada niatan". Mau pakai tas model apa juga kalau memang penjahat itu sudah berniat jahat ya mereka akan melakukan apa saja untuk merampok kita kan? Dan korban penjambretan, penodongan, atau pencurian di jalanan ini saya rasa bukan hanya dialami para wanita. Saya juga pernah baca ada seorang laki-laki yang menjadi korban penodongan di jalanan. Jadi para lelaki juga seharusnya tidak jalan kaki sendirian malam-malam?

Intinya, memang penjambret itu yang salah (ya iya lah, ya?). Kita yang bukan penjahat memang tidak bersalah, tapi harus repot untuk lebih aktif menjaga diri. Yes, selamat datang di dunia yang tidak adil. Orang yang tidak berniat jahat justru harus ikutan repot sendiri jadinya. Sejak kejadian ini saya berjanji untuk tidak akan jalan kaki di malam hari, apalagi kalau sendirian, dan juga untuk lebih mengawasi barang bawaan saya saat bepergian. Haruskah saya membawa perlengkapan perlindungan diri seperti semprotan merica untuk jaga-jaga?

Aih, semprotan merica. Sebelum kejadian ini mana ada saya berpikir sejauh ini. Membaca atau mendengar berita penjambretan selama ini saja saya tidak bereaksi apa-apa, paling sejauh ikut prihatin saja. Lihat kan bagaimana kejadian ini mempengaruhi saya? Saya loh, yang bahkan bukan korban utama dalam kejadian penjambretan ini.

Keamanan memang mahal harganya ya?

No comments: