Sunday, February 18, 2018

Self Destructive


I believe that each one of us got at least one self-destructive habit in their lives. 
What's yours?

Karena tidak ada manusia yang sempurna, dan tidak ada kehidupan yang selalu berbahagia dari awal sampai akhir. Tapi kabar baiknya adalah, tidak ada juga yang namanya kesedihan atau nasib sial yang sempurna. Sederhananya, semua memang ada waktunya masing-masing. Ada amin untuk saya disini, saudara-saudara?

Sebelum menulis ini saya sempat ragu apakah akan memberi judul Self Harm atau Self Destructive. Kedua hal ini nampaknya serupa tapi tak sama. Riset (baca : googling) singkat mengenai kedua hal ini membawa saya ke keputusan bahwa Self Destructive tampaknya lebih tepat untuk digunakan disini. Kenapa? Karena Self Harm sifatnya lebih ke arah fisik, sementara Self Destructive lebih ke arah psikologis. Saya tidak akan membahas ini terlalu dalam, takutnya salah arah malah dikira mendukung perilaku Self Harm. Nope, self harm is definitely not good, don't you ever dare to try it. End of story.

Lain lagi ceritanya kalau self destructive, yang dimana pengertiannya adalah sebuah perilaku yang berakibat buruk ke diri sendiri tapi tetap kita lakukan, meskipun kita tahu konsekuensinya. Contoh ekstrim : Drug abuse. Seriously, siapa sih yang tidak tahu efek jelek dari narkoba? Semua orang tahu, dan bahkan para pemakai nya juga tahu, tapi tetap ada saja yang mau jadi pengguna sampai sekarang. Contoh yang lainnya : Eating too many junk foods. Sudah tahu tidak sehat untuk badan, tapi enak di lidah, jadi ya sudah mau bagaimana lagi.

Daftar perilaku yang termasuk self destructive ini bisa panjang, berbeda untuk masing-masing orang, dan memiliki efek yang berbeda juga di pribadi masing-masing. Contoh di atas mungkin kurang terasa nyata karena di dunia ini masih banyak orang baik-baik yang tidak memakai narkoba (alhamdulillah!) dan masih banyak juga orang yang telah menjadi aktivis healthy eating masa kini. Tapi percaya lah, daftar perilaku self destructive ini bisa jadi jauh lebih dekat dengan kehidupan kita dari yang kita bayangkan :

1. Merokok
2. Boros
3. Menghabiskan terlalu banyak waktu di sosial media
4. Menonton terlalu banyak serial TV dalam satu waktu
5. Tidak pernah datang tepat waktu
6. Marah-marah saat berkendara
7. Terlalu banyak begadang
8. Tidak pernah berolahraga

Dan contoh-contoh lain yang masing-masing dari kita bisa menambahkan sendiri berdasarkan pengalaman masing-masing. Silahkan loh kalau mau menambahkan.

Pertanyaannya sekarang adalah kenapa kita tetap melakukan hal-hal tersebut, meskipun tahu efek jeleknya baik di masa kini maupun di masa mendatang? Saya jelas bukan psikolog, dan sungguh tidak ada dasar ilmu untuk menjawab pertanyaan ini secara ilmiah, jadi saya hanya akan menggunakan sesuatu yang selalu menjadi modal utama saya dalam mengarungi kehidupan ini, yaitu ke-sok tahu-an saya untuk menjawabnya :

Because doing all of those things make us feel good, while we're doing it.

I'll admit, sometimes i smoke. Saya punya hubungan putus-nyambung yang sudah berlangsung selama lebih dari 10 tahun dengan rokok. Seringkali saya merokok di kala bosan. Dan perasaan puas karena berhasil membunuh waktu dengan merokok itu sungguh, sangat menyenangkan.

Lalu siapa yang tidak merasakan satu kebahagian kecil saat barang yang dipesan di online shop akhirnya sampai di rumah? Entah belum tentu juga barang yang kita beli akan berguna dalam jangka panjang, atau pendek sekali pun. Yeah, we all been there done that.

And you can't argue with me about our engagement with social media these days. Saya pernah membaca satu artikel yang menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan kurang lebih empat jam dalam satu hari di handphone mereka. Begitu selesai membaca artikel itu saya langsung mengunduh aplikasi yang dapat menghitung jumlah waktu yang kita habiskan dalam menggunakan handphone. Hasilnya? Sudah untung kalau saya hanya menggunakan handphone empat jam dalam sehari, seringkali malah lebih dari itu. Padahal ya setelah dirasa-rasa yang saya buka di handphone ya itu-itu saja, bukan sesuatu yang benar-benar bermanfaat untuk diri sendiri apalagi masyarakat apalagi negara. Duh.

Kira-kira seperti itu lah maksud saya dengan self destructive habit. Tidak benar-benar melukai fisik dan merugikan secara langsung, tapi tetap pada akhirnya bisa mengurangi kualitas hidup. Kalian sudah paham kan gambarannya?

Nah sekarang tidak usah jadi orang paling suci di dunia, karena kita semua bukanlah biksu Tong Sam Cong. Tapi ya kalau tidak mau mengakui juga tidak apa-apa sih, ini saya sekedar mencari sesama teman pendosa saja. Teman yang sama-sama mau menyadari kekurangannya, dan sama-sama menarik batasan diri sembari berusaha menjadi lebih baik. 

Kenapa menarik batasan diri menjadi penting? Karena menjadi sempurna itu tidak mungkin, bro sis sekalian.

Jadi itu lah jalan tengah yang saya lakukan, membatasi diri untuk paling tidak jangan menambah daftar self destructive saya yang sudah panjang, dan membuat program untuk mengurangi hal-hal tersebut dalam waktu-waktu tertentu. Salah satu bentuk kompromi, seperti yang biasa manusia dewasa lakukan sehari-hari. 

Menjadi sempurna itu tidak mungkin, tapi kalau berkompromi untuk tidak menjadi lebih buruk, pasti bisa dong?

Sunday, January 21, 2018

Unfinished Bussiness


Have you ever left a book unfinished?

Kalau ada isian biodata yang harus dilengkapi, dan terdapat pertanyaan mengenai hobi, sudah bisa dipastikan saya akan menjawabnya dengan membaca. Konsistensi bukan hal paling mudah untuk dilakukan di dunia ini, tapi saya yakin untuk urusan yang satu ini saya selalu konsisten. Dari sejak jaman SD sampai saat ini, saya selalu mengisi pertanyaan hobi dengan jawaban membaca buku.

Sebentar. Apakah ini berarti saya tidak benar-benar berkembang hingga tidak menemukan hobi yang lain lagi? Shit.

Tapi bukan itu yang mau saya bahas. Soal berkembang atau tidak itu mungkin bisa kita bahas lain kali. Untuk kali ini yang ingin saya bahas adalah mengenai kebiasaan orang dalam membaca suatu buku. Pertanyaannya sederhana : Jika kalian sudah mulai membaca suatu buku, apakah kalian harus menyelesaikannya?

Ini merupakan sebuah kasus baru untuk saya. Sejauh ini, seingat saya, baru satu buku yang pernah saya "campakkan" di tengah jalan. Belum sampai tengah bahkan, saya baru mulai membaca kurang dari sepuluh halaman, dan saya sudah yakin kalau tidak akan sanggup menyelesaikannya. Saya bahkan sudah lupa judul bukunya. Terbitan dalam negeri pokoknya, dibeli dengan random sewaktu saya sedang ke Gramedia karena cover dan cuplikan cerita yang memikat. Karena dari awal saya sudah merasa tidak cocok dengan bukunya, jadi saya tidak punya rasa bersalah sama sekali sih karena meninggalkan buku itu.

Lalu setelahnya tidak ada lagi kasus serupa. Saya selalu menyelesaikan setiap buku yang saya baca. Sampai tibalah kita di saat ini, dimana saya sedang berusaha untuk menyelesaikan novel berjudul Grotesque karya Natsuo Kirino. Buku ini saya beli tanggal 7 Mei 2016. Saya ingat persis karena buku ini dibeli sewaktu saya datang berkunjung ke Big Bad Wolf bersama teman-teman saya. Sudah hampir 2 tahun, dan saya masih belum berhasil menyelesaikannya. Dulu sudah sempat saya baca, lalu saya tinggalkan untuk membaca yang lain, lalu mulai saya baca lagi, lalu saya tinggalkan lagi, dan siklus itu terus berulang sampai kali ini. Namun kali ini saya mulai bertanya-tanya, boleh kah jika saya tidak membaca novel ini sampai selesai? Dosa tidak?

Iya, saya kok merasa berdosa ya kalau meninggalkan sebuah buku yang tidak selesai dibaca. Saya merasa memiliki tanggungjawab moral pada penulisnya, seakan-akan penulisnya ada di hadapan saya dan melihat langsung saat saya menyerah untuk menyelesaikan bukunya. Saya membayangkan penulisnya bersedih hati di hadapan saya saat kejadian itu berlangsung. Duh, mana sanggup.

Selain itu saya juga benci membayangkan diri menjadi seseorang yang judgmental. Buku belum selesai dibaca kok sudah di-cap tidak bagus? Tahu darimana kamu kalau tidak tahu akhir ceritanya bagaimana? Tahu darimana kamu kalau-kalau di tengah jalan nanti tiba-tiba ceritanya akan menjadi sangat menarik? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu lah kira-kira yang ada di kepala saya.

Tapi saya juga benci kalau harus menjadikan aktivitas membaca sebagai sebuah kewajiban belaka. Membaca buku seharusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan. Orang-orang membaca buku untuk berbahagia bukan untuk menyiksa diri, bukan begitu? Dan lagi, sepanjang apa sih waktu kita di dunia ini sampai-sampai boleh kita buang begitu saja untuk membaca sesuatu yang tidak sesuai selera kita?

Tampaknya di kasus pertama saya masih bisa lolos dari rasa bersalah karena saya baru baca sebagian kecil, dan langsung merasa tidak cocok dengan bukunya. Ibarat kata, memang tidak ada ikatan batinnya dari awal. Nah untuk kasus kedua ini, sesungguhnya saya benar-benar penasaran dengan akhir ceritanya, namun cara penulisnya bercerita di buku ini sungguh bertele-tele dan tidak lugas jadi saya lelah. Tapi saya penasaran, karena akar ceritanya menurut saya cukup dalam dan menarik.

Dan saya sudah sampai di halaman 361 dari total 530 halaman. 

Baiklah, untuk kali ini saya akan memaksa diri untuk menyelesaikannya. Semoga ke depannya saya tidak perlu lagi berhadapan dengan kasus serupa. Kalaupun harus, semoga ke depannya saya diberikan kekuatan mental untuk menepis bayangan penulis yang bersedih hati karena tulisannya tidak berhasil memikat seorang pembaca.

Sunday, January 14, 2018

2018


Have you ever feel so stuck, you don't even know what to do anymore?

Begitu lah kira-kira kehidupan saya saat ini. Bukan berarti hari-hari yang saya jalani sebelum ini terasa begitu cerah dan memiliki tujuan mulia juga sih. Selama ini juga rasanya hidup saya begitu-begitu saja, mengalir kemana takdir membawa, terkadang terantuk batu besar, terkadang harus berjuang mati-matian untuk keluar dari badai, atau terkadang terasa begitu mulus berenang di air tenang di bawah sinar matahari.

Intinya hidup saya memang biasa-biasa saja.

Tapi sekarang rasanya saya ingin lebih. Mungkin ingin lebih memaknai hidup, atau mungkin hanya ingin sekedar mencari sedikit pelarian dari rutinitas hidup. Jadi beberapa hari ini saya mulai mempertanyakan, apa sih yang membuat saya bahagia?

And it struck me real hard, for not knowing the accurate answer to that.

Jadi mari coba saya jawab. Saya biasa mengumpulkan kebahagiaan dari hal-hal kecil yang terjadi di keseharian saya, contohnya :

1. Sekaleng Nescafe Latte dingin di pagi hari.
2. Menyelesaikan buku bacaan yang menurut saya bagus dan menyentuh hati.
3. Membuat gundam.
4. Membuat to do list harian dan berhasil melaksanakannya.
5. Menyetir sendirian saat sedang ingin me time.
6. Mengenakan outfit yang membahagiakan diri ke kantor.
7. Berhasil curi-curi waktu bersantai di balkon kantor saat pekerjaan sedang sibuk-sibuknya.
8. Berhasil curi-curi waktu liburan ke destinasi impian di saat perjalanan dinas dari kantor.
9. Merombak posisi kamar dan sekarang saya punya sudut baca yang nyaman.
10. Bangun pagi tanpa alarm di hari kerja.

Hal-hal semacam itu. Sesuatu yang sederhana, dan bisa terjadi berulang. Sepuluh hal rasanya sudah cukup banyak, jadi kalau saya masih merasa kurang puas, apa yang salah?

Pertama, mungkin hal-hal di atas sifatnya terlalu temporer? Kedua, mungkin hal-hal di atas kurang substansial? Ketiga, mungkin hal-hal di atas hanya merupakan "pengganti" yang dimasukan ke rutinitas sebagai penghibur?

Mungkin saya perlu kebahagiaan yang memiliki tujuan lebih. Sesuatu yang begitu besarnya, sampai-sampai tidak ada lagi rutinitas yang perlu dihibur melalui berbagai pelampiasan. Masuk akal tidak pemikiran saya ini?

Jadi sekarang saya sedang ingin memulai sebuah project pribadi. Project yang mungkin tidak akan menjawab pertanyaan besar saya di atas, tapi paling tidak memberi saya alasan untuk benar-benar melakukan sesuatu, bukan yang terlalu besar sampai mempengaruhi hidup orang lain, tapi cukup besar untuk mempengaruhi kehidupan personal saya (semoga).

Tidak akan saya tuliskan secara gamblang detail project nya disini, jadi jika nanti saya gagal karena kurang istiqomah dalam menjalankannya, paling tidak orang lain tidak akan bisa menertawakan karena sejak awal mereka juga tidak tahu project saya sesungguhnya hahaha *licik sejak dalam pikiran.

Cukup lah sekiranya tulisan pertama saya di tahun 2018 ini. Semoga kita semua berbahagia, dan merasa cukup dengan kebahagian tersebut untuk terus menyambung hidup. Sampai jumpa!


Tuesday, June 27, 2017

Lebaran

Saya membaca sebuah quote sederhana di momen Lebaran tahun ini. Salah satu temuan random di internet, hal yang biasa terjadi dan bukan sesuatu yang spesial ya sebenarnya. Quote ini pun rasanya klise, bukan hal baru yang sampai membuat seseorang harus memutar kedua bola mata karena terperangah menemukan hal yang baru.

Sekali lagi, quote ini biasa saja. Entah kenapa pula saya membuat pembukaan yang terlampau panjang seperti ini untuk sebuah quote yang terlampau biasa. Bunyinya hanya seperti ini saja :

"Forgiving is not forgetting, it is remembering without anger."

Biasa saja kan?

.

.

.

.

.

.

Sekedar untuk dibaca, iya tentu saja itu biasa saja. Hanya sebuah kalimat, intinya sekedar memaafkan, bukan dengan cara melupakan, tapi dengan tidak lagi marah. Berdamai, dengan apapun itu yang membuatmu tidak bisa memaafkan di tempat pertama. Tapi coba lah itu dilakukan di kehidupan nyata. Susah.

Karena salah satu insting paling dasar manusia adalah survival. Manusia, dalam kondisi terancam terutama, pertama kali pasti akan selalu menempatkan dirinya di posisi bertahan. Ini berlaku untuk segala jenis ancaman, baik itu secara fisik maupun non fisik. Karena kalau bukan kita yang melindungi diri kita sendiri, siapa lagi yang akan melakukannya untuk kita?

Lalu saat disakiti, siapa yang harus menyembuhkan diri selain diri kita sendiri? Bahkan Ed Sheeran pun menulis dengan lugas di salah satu lagunya, Save Yourself. Siapa lah saya ini mau menentang petuah musisi kelas atas macam Ed itu?

Disini lah permasalahan kita dimulai. Disaat memaafkan berarti mengingat tanpa rasa marah, itu berarti saya tidak bisa menyalahkan pihak yang menurut saya bersalah. Tapi dengan menganggap pihak lain tidak bersalah, hal termudah untuk dilakukan adalah menentukan bahwa saya sendiri lah yang bersalah. Karena jujur saja, tidak mungkin tidak ada yang salah dalam suatu permasalahan. Terlalu naif rasanya kalau berfikir terlalu positif begitu, sudah lah tidak usah dipaksa, kita semua manusia dewasa yang sudah sama-sama pernah melihat negatif nya dunia kok. Lalu kalau saya merasa saya yang salah, itu berarti saya malah merusak diri saya sendiri, kan? Di titik ini kita kembali lagi ke poin survival, untuk melindungi diri sendiri akhirnya saya terpaksa kembali menyalahkan pihak lain. Lalu terus saja putaran saling menyalahkan itu berulang di kepala saya. Semacam skenario "what if" yang tidak ada ujungnya.

Lalu dimana titik akhirnya? Bagaimana caranya untuk tidak menyalahkan? Bagaimana caranya untuk memaafkan pihak lain, dan juga diri kita, tanpa harus menyakiti diri kita sendiri? Saya ingin tahu loh, sungguh.

Thursday, November 22, 2012

Stray Heart

Nggak biasanya saya kepikiran sesuatu gara-gara lagu sampe harus tertuang di blog ini. Akhir-akhir ini pikiran saya pendek, nggak sampe lebih dari 140 karakter, jadi ya sudah saja saya tulis di twitter.

Tapi nggak buat yang satu ini. Pikiran saya kali ini jauh lebih banyak dari 140 karakter, dan lagu yang saya bicarakan itu adalah lagu Green Day terbaru judulnya Stray Heart. Kalimat pamungkas penggalan lirik lagu ini sudah pernah saya tuangkan di twitter sih :

Everything that i want, i want from you, but i just can't have you.
Everything that i need, i need from you, but i just can't have you.

Pernah nggak kehilangan sesuatu yang, akhirnya, disadari sebagai salah satu hal terbaik dari yang paling terbaik yang pernah ada? Sepatu kesayangan yang tiba-tiba hilang tanpa jejak, misalnya.

Bayangin deh. Pas pertama sadar kehilangan yang terbaik itu rasanya pasti ngenes banget, jelas. Serasa pengen garuk-garuk tanah. Pengen jongkok aja di pojok ruangan meratapi nasib akibat kebodohan sendiri. Sepatu yang umurnya udah bertahun-tahun, sering banget dipake kemana-mana, tiba-tiba hilang begitu saja pas kondisinya masih bagus. Mau balik lagi ke tokonya beli yang sama persis juga udah nggak mungkin secara itu belinya beberapa tahun yang lalu, kan?

Tapi ternyata, pada akhirnya, kehilangan sesuatu yang sampe segitunya itu bikin semuanya jadi lebih mudah. Otomatis bikin kita sadar dan mikir, yang terbaik emang udah nggak di tangan kita, jadi mau apa lagi? Ngotot mau nyari gantinya? Mana ada ganti yang bisa nyaingin sesuatu yang udah jadi yang terbaik sih?

Tiba-tiba semuanya jadi sederhana, karena kita berhenti berusaha mencari yang terbaik (lagi). Kita berhenti ngotot memaksakan sesuatu lain yang bukan yang terbaik buat jadi yang terbaik. Kita bersyukur sama apa yang kita punya sekarang. Simple.

Coba kalo kita nggak pernah tau yang terbaik kaya apa bentukannya. Seumur hidup kita bakal terus nyari yang terbaik, kan? Capek loh.

Yah, ada juga sih oknum beruntung yang menemukan si terbaik dan tidak bertindak bodoh sampai terpaksa kehilangan si terbaik itu buat selamanya. Buat sisanya yang nggak seberuntung oknum tadi? Ya cuma ini kuncinya, bersyukur. Berterimakasih karena sudah pernah dikasih kesempatan buat tau yang terbaik untuk kita yang kaya apa. Lalu berhenti ngotot, karena yang terbaik itu nggak akan mungkin tergantikan.

Just remember, be grateful! 


PS : Video klip lagu ini lucu loh, sumpah. Cek deh Green Day - Stray Heart

Wednesday, July 18, 2012

Bebas?


Saya suka sekali dengan iklan 3 yang terbaru ini. Ada 2 versi, dan saya suka kedua-duanya. Menohok sekali ke kehidupan sosial sekitar kita, yang entah pernah berapa kali saya katakan, terkadang memang terlalu menuntut.

Terlepas dari benar dan salah, bagi saya kata-kata "menuntut" itu sendiri sudah menjadi sebuah beban tersendiri. Ibaratnya nih, kalau kehidupan sosial sekitar kita itu punya mata (dan well, memang punya sih) maka semua tindakan yang kita ambil, semua pilihan yang kita buat, semua langkah yang kita jalani, akan terus diamati oleh mata-mata tersebut. Persis begitu kan rasanya hidup di lingkungan sosial masyarakat kita? Seperti diamati. Melangkah dengan cemas, menunggu untuk dihakimi saat "salah" mengambil langkah.

Ironisnya, saya percaya semua orang dari semua lapisan sosial di kehidupan kita menginginkan yang terbaik untuk kehidupan kita. Niat mereka baik kok, untuk memastikan kita menghidupi kehidupan yang baik saat ini hingga di masa depan nanti, untuk menjaga kita tetap berada di norma sosial yang berlaku. Balik lagi kan ujung-ujungnya ke norma sosial. Ah ya sudahlah.


Kebebasan itu, omong kosong.
Katanya aku bebas berekspresi, tapi selama rok masih di bawah lutut.
Hidup ini singkat, mumpung masih muda nikmati sepuasnya.
Asal, jangan lewat dari jam 10 malam.
Katanya, urusan jodoh sepenuhnya ada di tanganku.
Asalkan sesuku, kalau bisa kaya, pendidikan tinggi, dari keluarga baik-baik..
Katanya, jaman sekarang pilihan itu nggak ada batasnya.
Asal, ikutin pilihan yang ada.



Kebebasan itu, omong kosong.
Katanya bebas berteman dengan siapa aja, asal orang tua suka.
Katanya jadi laki-laki itu jangan pernah takut gagal.
Tapi juga jangan bodoh untuk ambil resiko, mendingan kerja dulu cari pengalaman.
Katanya urusan jodoh sepenuhnya ada di tangan.
Asalkan dari keluarga terpandang, nggak cuma cantik tapi juga santun, berpendidikan..
Katanya, jaman sekarang pilihan itu nggak ada batasnya.
Asal, ikutin pilihan yang ada.

Tuesday, July 17, 2012

Mau beli rasa aman, dimana?

Dua hari yang lalu, saya menjadi korban tidak langsung dari sebuah aksi penjambretan saat berada di Bandung. Korban tidak langsung, karena saat kejadian tersebut saya berada di TKP namun yang kehilangan harta benda bukan saya melainkan seorang teman yang saat itu sedang bersama saya.

Ceritanya, minggu malam kemarin saya pergi bersama seorang teman. Perempuan, namanya Dinda. Kami pergi keluar dari sore, belanja belanji lalu dilanjutkan makan malam di sebuah restauran yang terletak di Jalan Progo. Selesai makan sekitar jam 9 malam, kami berjalan kaki untuk mencari angkot. Tidak ada angkot yang langsung jalan melewati Jalan Progo memang, karena itu kami harus berjalan lumayan jauh terlebih dahulu menuju jalur angkot.

Malam itu ada dua jalur yang bisa kami pilih. Untuk penghuni Bandung pasti tau dong pertigaan antara Jalan Progo dan Jalan Banda yang ada Jonas Photo itu? Nah, kami bisa memilih untuk belok kiri ke Jalan Riau, atau belok kanan ke jalan di area Gedung Sate (jalan apa sih itu namanya saya lupa?). Pertigaan itu memang gelap dan sepi, mau belok kiri atau belok kanan saat itu sama-sama gelapnya. Akhirnya, karena ragu apakah angkot di Jalan Riau masih beroperasi pada jam setengah 10 malam maka kami memutuskan untuk belok kanan saja menuju ke arah jalan Gedung Sate itu.

Kami berjalan di sisi kiri jalan, dimana saya berjalan di atas trotoar sementara teman saya berjalan di pinggir jalan (jalanan saat itu sudah sepi, jadi teman saya memilih untuk tidak berjalan di trotoar). Kami sedang bercerita panjang lebar sambil berjalan, saat tiba-tiba teman saya berteriak dan tubuhnya hampir terjatuh ke jalan. Saya pikir dia tersandung, namun kemudian saya melihat sepeda motor yang dinaiki oleh 2 orang berada persis di depan teman saya, berusaha menarik tas yang dijinjing oleh teman saya di bahu kanannya.
Shock saya langsung berlari ke arahnya sambil berteriak "Jambret" "Tolong" "Copet" dan entah apalagi. Para penjambret itu berhasil menarik tas teman saya walaupun dia memberi perlawanan. Jelas lah ya, teman saya itu jalan kaki sementara penjambret itu naik motor. Tinggal gas kencang juga pasti teman saya ikut tertarik.
Kami berdua terus berlari mengejar jambret tersebut yang belok kiri di pertigaan. Daerah Jalan Banda ini memang sepi dan gelap, jadi mau kami teriak minta tolong juga siapa yang mau bantu coba? Yah, walaupun sebenarnya saya melihat disitu ada satpam sebuah bank dan sekuriti sebuah penginapan sedang berdiri di pos masing-masing (yang berada di jalur kami mengejar penjambret tersebut sebenarnya), tapi toh mereka tidak bergeming. Cuma menonton saja tanpa ada niatan menolong. Jahat sekali. :(

Setelah menyerah mengejar penjambret itu kami terduduk lesu di trotoar. Singkat cerita, teman saya itu sedih setengah mati karena hampir semua barang berharga seperti HP dan dompetnya ada di tas itu. Saya yang tidak kehilangan apa-apa saja shock setengah mati sampai ikutan panik. Phisically, kami berdua memang tidak terluka. But mentally? Rasanya saya kaget, sedih, dan sekaligus merasa bodoh.

Saya bertanya-tanya, kenapa bisa kejadian itu menimpa kami? Menimpa teman saya? Berbagai spekulasi ada di pemikiran kami berdua.

Mungkin seharusnya di pertigaan Jonas Photo itu kami memilih untuk belok kiri saja menuju Jalan Riau? Ah. Tapi toh jalan itu juga sama saja gelapnya, saya yakin kalaupun kami menempuh jalur itu penjambret yang kemungkinan besar memang sudah mengintai disitu menunggu mangsa juga pasti akan menghampiri kami.

Atau mungkin seharusnya teman saya berjalan di trotoar bersama saya, bukannya di jalanan yang memudahkan penjambret tersebut untuk menarik tasnya sambil lewat begitu saja? Ah. Tapi toh yang namanya aksi itu ada karena niatan kan? Kalau memang penjambret itu berniat merampok kami, walaupun kami berdua berjalan di trotoar bisa saja kan mereka malah nekat untuk turun dari motor dan menodong kami langsung di trotoar? Mungkin bahkan akan mengancam dengan senjata tajam, seperti beberapa berita penodongan yang pernah saya baca. Malah lebih seram lagi kalau begini kejadiannya.

Atau mungkin seharusnya teman saya itu, dan saya, dan semua wanita di Indonesia tidak menggunakan tas jinjing yang memang relatif lebih mudah dijambret paksa dibandingkan kalau menggunakan tas selempang atau bahkan tas gendong? Atau mungkin seharusnya kami para wanita tidak berjalan kaki di malam hari? Ah. Menurut saya sih semuanya tetap kembali ke statement "Ada aksi karena ada niatan". Mau pakai tas model apa juga kalau memang penjahat itu sudah berniat jahat ya mereka akan melakukan apa saja untuk merampok kita kan? Dan korban penjambretan, penodongan, atau pencurian di jalanan ini saya rasa bukan hanya dialami para wanita. Saya juga pernah baca ada seorang laki-laki yang menjadi korban penodongan di jalanan. Jadi para lelaki juga seharusnya tidak jalan kaki sendirian malam-malam?

Intinya, memang penjambret itu yang salah (ya iya lah, ya?). Kita yang bukan penjahat memang tidak bersalah, tapi harus repot untuk lebih aktif menjaga diri. Yes, selamat datang di dunia yang tidak adil. Orang yang tidak berniat jahat justru harus ikutan repot sendiri jadinya. Sejak kejadian ini saya berjanji untuk tidak akan jalan kaki di malam hari, apalagi kalau sendirian, dan juga untuk lebih mengawasi barang bawaan saya saat bepergian. Haruskah saya membawa perlengkapan perlindungan diri seperti semprotan merica untuk jaga-jaga?

Aih, semprotan merica. Sebelum kejadian ini mana ada saya berpikir sejauh ini. Membaca atau mendengar berita penjambretan selama ini saja saya tidak bereaksi apa-apa, paling sejauh ikut prihatin saja. Lihat kan bagaimana kejadian ini mempengaruhi saya? Saya loh, yang bahkan bukan korban utama dalam kejadian penjambretan ini.

Keamanan memang mahal harganya ya?

Wednesday, June 13, 2012

Mission Failed (2)

Life is all about trial and error, right?
Kita mencoba melakukan sesuatu, dan mungkin, kalau kita cukup beruntung dan diberkahi, pada akhirnya kita sukses melakukannya.
Kalau kurang beruntung?
Gagal lalu coba lagi.
Begitu saja kan pada intinya?

Salah satu bentuk trial and error ini tak lain dan tak bukan, adalah pacaran.
Pacaran, atau menjalin hubungan dengan orang lain, atau beradaptasi untuk hidup bersama orang lain, whatever you named it.
Dan, namanya juga trial and error. Termasuk hal yang wajar kan berarti kalau gagal?

Masalahnya adalah, terkadang kalau kita gagal dalam hal ini, sama seperti kalau gagal dalam setiap hal lainnya di kehidupan, mencoba lagi adalah suatu frasa yang sangat sulit untuk diwujudkan.
Yah, setidaknya untuk beberapa orang.
Lucky to say, i'm not one of those guys.
Saya, bukan perempuan yang akan menangis seminggu penuh sampai tidak mau makan saat patah hati.
Sehari semalam rasanya sudah lebih dari cukup untuk saya menangis karena putus cinta.
Saya juga bukan perempuan yang akan menyimpan sakit hati pada mantan kekasih lalu bertingkah seakan tak saling kenal karena baru saja putus cinta.
Hell no.
Kenapa? Karena ego saya terlalu besar. 

Dia pikir dia siapa sampai bisa membuat saya menangis berhari-hari sambil mengurung diri?
Dia pikir dia siapa sampai bisa membuat saya bertingkah canggung sampai harus repot-repot menghindar?
Dia pikir dia siapa, adalah satu kalimat yang sangat ampuh bagi saya.
Jadi, saya tidak percaya dengan patah hati.
Never have, never will.

Tapi saya percaya dengan yang namanya kegagalan.
Kalau kehidupan kita dituliskan dalam sebuah resume atau CV, saya percaya akan ada satu bab khusus untuk menuliskan kegagalan-kegagalan kita.
Dan layaknya saat kita menulis CV, setiap kegagalan itu akan selalu tersimpan dalam resume yang kita buat.
Menurut saya, ini adalah bagian terburuknya.
Bukan masalah hati yang patah, tapi masalah otak yang merekam suatu kegagalan.
Catat ya, putus cinta itu bukan masalah hati tapi masalah otak.
Yah, setidaknya untuk saya sendiri.

Sampai sini saya masih bisa bilang untung saja ego saya besar.
Dia pikir dia siapa bisa meninggalkan luka sekaligus trauma untuk saya bangkit dari kegagalan?
Dia pikir dia siapa bisa menahan saya untuk memulai kembali?
Dia pikir dia siapa bisa membuat hidup saya dibayangi ketakutan akan kegagalan yang pernah saya alami?

Namun ternyata, bayangan kegagalan itu sungguh terlalu berat.
Ternyata, memori kegagalan itu efeknya lebih besar dari patah hati.
Dibalik sikap sok tidak pernah terluka itu, otak saya masih terus berpikir kalau dulu saya pernah gagal dan kemungkinan besar saat mencoba lagi nanti kegagalan itu akan datang kembali.
Keluar tiba-tiba dari balik pohon, dia tersenyum lebar sambil berujar "Hello, finally we meet again".
Tiba-tiba saya mulai ragu akan keajaiban kalimat "Dia pikir dia siapa" yang selama ini saya agungkan.

This idea of failure is waaaaaay too big for me to handle.
Di atas besarnya ego yang saya punya, bayangan kegagalan itu ternyata selalu mengintai.
Bodohnya saya saja yang selalu mengatakan semua baik-baik saja.
Naif.

Tuesday, May 8, 2012

Umbrella


Cause if you look closer, you'll see that happiness is just right around the corner. 
Why make things complicated, right? :)

Tuesday, February 28, 2012

Sunshine

Panggil aku matahari. Bukan karena sinarnya yang terang, bukan. Bukan pula karena pancaran energinya yang dibutuhkan oleh semua makhluk.
Panggil aku matahari, karena ia adalah benda terpanas di tatanan tata surya.
Panggil aku matahari, karena tak ada yang bisa mendekatinya tanpa harus terbakar.
Panggil aku matahari, karena terkadang ia mengalami badai yang mengakibatkan resiko radiasi pada semua yang mengelilinginya.

Dari semua benda di tatanan tata surya, pilihanmu jatuh pada matahari.
Kau tahu?
Tanpa sadar, alam semesta sedang memberimu peringatan.
Bahwa matahari, dalam jarak yang terlalu dekat, bukanlah sesuatu yang baik.