Tuesday, June 27, 2017

Lebaran

Saya membaca sebuah quote sederhana di momen Lebaran tahun ini. Salah satu temuan random di internet, hal yang biasa terjadi dan bukan sesuatu yang spesial ya sebenarnya. Quote ini pun rasanya klise, bukan hal baru yang sampai membuat seseorang harus memutar kedua bola mata karena terperangah menemukan hal yang baru.

Sekali lagi, quote ini biasa saja. Entah kenapa pula saya membuat pembukaan yang terlampau panjang seperti ini untuk sebuah quote yang terlampau biasa. Bunyinya hanya seperti ini saja :

"Forgiving is not forgetting, it is remembering without anger."

Biasa saja kan?

.

.

.

.

.

.

Sekedar untuk dibaca, iya tentu saja itu biasa saja. Hanya sebuah kalimat, intinya sekedar memaafkan, bukan dengan cara melupakan, tapi dengan tidak lagi marah. Berdamai, dengan apapun itu yang membuatmu tidak bisa memaafkan di tempat pertama. Tapi coba lah itu dilakukan di kehidupan nyata. Susah.

Karena salah satu insting paling dasar manusia adalah survival. Manusia, dalam kondisi terancam terutama, pertama kali pasti akan selalu menempatkan dirinya di posisi bertahan. Ini berlaku untuk segala jenis ancaman, baik itu secara fisik maupun non fisik. Karena kalau bukan kita yang melindungi diri kita sendiri, siapa lagi yang akan melakukannya untuk kita?

Lalu saat disakiti, siapa yang harus menyembuhkan diri selain diri kita sendiri? Bahkan Ed Sheeran pun menulis dengan lugas di salah satu lagunya, Save Yourself. Siapa lah saya ini mau menentang petuah musisi kelas atas macam Ed itu?

Disini lah permasalahan kita dimulai. Disaat memaafkan berarti mengingat tanpa rasa marah, itu berarti saya tidak bisa menyalahkan pihak yang menurut saya bersalah. Tapi dengan menganggap pihak lain tidak bersalah, hal termudah untuk dilakukan adalah menentukan bahwa saya sendiri lah yang bersalah. Karena jujur saja, tidak mungkin tidak ada yang salah dalam suatu permasalahan. Terlalu naif rasanya kalau berfikir terlalu positif begitu, sudah lah tidak usah dipaksa, kita semua manusia dewasa yang sudah sama-sama pernah melihat negatif nya dunia kok. Lalu kalau saya merasa saya yang salah, itu berarti saya malah merusak diri saya sendiri, kan? Di titik ini kita kembali lagi ke poin survival, untuk melindungi diri sendiri akhirnya saya terpaksa kembali menyalahkan pihak lain. Lalu terus saja putaran saling menyalahkan itu berulang di kepala saya. Semacam skenario "what if" yang tidak ada ujungnya.

Lalu dimana titik akhirnya? Bagaimana caranya untuk tidak menyalahkan? Bagaimana caranya untuk memaafkan pihak lain, dan juga diri kita, tanpa harus menyakiti diri kita sendiri? Saya ingin tahu loh, sungguh.

Thursday, November 22, 2012

Stray Heart

Nggak biasanya saya kepikiran sesuatu gara-gara lagu sampe harus tertuang di blog ini. Akhir-akhir ini pikiran saya pendek, nggak sampe lebih dari 140 karakter, jadi ya sudah saja saya tulis di twitter.

Tapi nggak buat yang satu ini. Pikiran saya kali ini jauh lebih banyak dari 140 karakter, dan lagu yang saya bicarakan itu adalah lagu Green Day terbaru judulnya Stray Heart. Kalimat pamungkas penggalan lirik lagu ini sudah pernah saya tuangkan di twitter sih :

Everything that i want, i want from you, but i just can't have you.
Everything that i need, i need from you, but i just can't have you.

Pernah nggak kehilangan sesuatu yang, akhirnya, disadari sebagai salah satu hal terbaik dari yang paling terbaik yang pernah ada? Sepatu kesayangan yang tiba-tiba hilang tanpa jejak, misalnya.

Bayangin deh. Pas pertama sadar kehilangan yang terbaik itu rasanya pasti ngenes banget, jelas. Serasa pengen garuk-garuk tanah. Pengen jongkok aja di pojok ruangan meratapi nasib akibat kebodohan sendiri. Sepatu yang umurnya udah bertahun-tahun, sering banget dipake kemana-mana, tiba-tiba hilang begitu saja pas kondisinya masih bagus. Mau balik lagi ke tokonya beli yang sama persis juga udah nggak mungkin secara itu belinya beberapa tahun yang lalu, kan?

Tapi ternyata, pada akhirnya, kehilangan sesuatu yang sampe segitunya itu bikin semuanya jadi lebih mudah. Otomatis bikin kita sadar dan mikir, yang terbaik emang udah nggak di tangan kita, jadi mau apa lagi? Ngotot mau nyari gantinya? Mana ada ganti yang bisa nyaingin sesuatu yang udah jadi yang terbaik sih?

Tiba-tiba semuanya jadi sederhana, karena kita berhenti berusaha mencari yang terbaik (lagi). Kita berhenti ngotot memaksakan sesuatu lain yang bukan yang terbaik buat jadi yang terbaik. Kita bersyukur sama apa yang kita punya sekarang. Simple.

Coba kalo kita nggak pernah tau yang terbaik kaya apa bentukannya. Seumur hidup kita bakal terus nyari yang terbaik, kan? Capek loh.

Yah, ada juga sih oknum beruntung yang menemukan si terbaik dan tidak bertindak bodoh sampai terpaksa kehilangan si terbaik itu buat selamanya. Buat sisanya yang nggak seberuntung oknum tadi? Ya cuma ini kuncinya, bersyukur. Berterimakasih karena sudah pernah dikasih kesempatan buat tau yang terbaik untuk kita yang kaya apa. Lalu berhenti ngotot, karena yang terbaik itu nggak akan mungkin tergantikan.

Just remember, be grateful! 


PS : Video klip lagu ini lucu loh, sumpah. Cek deh Green Day - Stray Heart

Wednesday, July 18, 2012

Bebas?


Saya suka sekali dengan iklan 3 yang terbaru ini. Ada 2 versi, dan saya suka kedua-duanya. Menohok sekali ke kehidupan sosial sekitar kita, yang entah pernah berapa kali saya katakan, terkadang memang terlalu menuntut.

Terlepas dari benar dan salah, bagi saya kata-kata "menuntut" itu sendiri sudah menjadi sebuah beban tersendiri. Ibaratnya nih, kalau kehidupan sosial sekitar kita itu punya mata (dan well, memang punya sih) maka semua tindakan yang kita ambil, semua pilihan yang kita buat, semua langkah yang kita jalani, akan terus diamati oleh mata-mata tersebut. Persis begitu kan rasanya hidup di lingkungan sosial masyarakat kita? Seperti diamati. Melangkah dengan cemas, menunggu untuk dihakimi saat "salah" mengambil langkah.

Ironisnya, saya percaya semua orang dari semua lapisan sosial di kehidupan kita menginginkan yang terbaik untuk kehidupan kita. Niat mereka baik kok, untuk memastikan kita menghidupi kehidupan yang baik saat ini hingga di masa depan nanti, untuk menjaga kita tetap berada di norma sosial yang berlaku. Balik lagi kan ujung-ujungnya ke norma sosial. Ah ya sudahlah.


Kebebasan itu, omong kosong.
Katanya aku bebas berekspresi, tapi selama rok masih di bawah lutut.
Hidup ini singkat, mumpung masih muda nikmati sepuasnya.
Asal, jangan lewat dari jam 10 malam.
Katanya, urusan jodoh sepenuhnya ada di tanganku.
Asalkan sesuku, kalau bisa kaya, pendidikan tinggi, dari keluarga baik-baik..
Katanya, jaman sekarang pilihan itu nggak ada batasnya.
Asal, ikutin pilihan yang ada.



Kebebasan itu, omong kosong.
Katanya bebas berteman dengan siapa aja, asal orang tua suka.
Katanya jadi laki-laki itu jangan pernah takut gagal.
Tapi juga jangan bodoh untuk ambil resiko, mendingan kerja dulu cari pengalaman.
Katanya urusan jodoh sepenuhnya ada di tangan.
Asalkan dari keluarga terpandang, nggak cuma cantik tapi juga santun, berpendidikan..
Katanya, jaman sekarang pilihan itu nggak ada batasnya.
Asal, ikutin pilihan yang ada.

Tuesday, July 17, 2012

Mau beli rasa aman, dimana?

Dua hari yang lalu, saya menjadi korban tidak langsung dari sebuah aksi penjambretan saat berada di Bandung. Korban tidak langsung, karena saat kejadian tersebut saya berada di TKP namun yang kehilangan harta benda bukan saya melainkan seorang teman yang saat itu sedang bersama saya.

Ceritanya, minggu malam kemarin saya pergi bersama seorang teman. Perempuan, namanya Dinda. Kami pergi keluar dari sore, belanja belanji lalu dilanjutkan makan malam di sebuah restauran yang terletak di Jalan Progo. Selesai makan sekitar jam 9 malam, kami berjalan kaki untuk mencari angkot. Tidak ada angkot yang langsung jalan melewati Jalan Progo memang, karena itu kami harus berjalan lumayan jauh terlebih dahulu menuju jalur angkot.

Malam itu ada dua jalur yang bisa kami pilih. Untuk penghuni Bandung pasti tau dong pertigaan antara Jalan Progo dan Jalan Banda yang ada Jonas Photo itu? Nah, kami bisa memilih untuk belok kiri ke Jalan Riau, atau belok kanan ke jalan di area Gedung Sate (jalan apa sih itu namanya saya lupa?). Pertigaan itu memang gelap dan sepi, mau belok kiri atau belok kanan saat itu sama-sama gelapnya. Akhirnya, karena ragu apakah angkot di Jalan Riau masih beroperasi pada jam setengah 10 malam maka kami memutuskan untuk belok kanan saja menuju ke arah jalan Gedung Sate itu.

Kami berjalan di sisi kiri jalan, dimana saya berjalan di atas trotoar sementara teman saya berjalan di pinggir jalan (jalanan saat itu sudah sepi, jadi teman saya memilih untuk tidak berjalan di trotoar). Kami sedang bercerita panjang lebar sambil berjalan, saat tiba-tiba teman saya berteriak dan tubuhnya hampir terjatuh ke jalan. Saya pikir dia tersandung, namun kemudian saya melihat sepeda motor yang dinaiki oleh 2 orang berada persis di depan teman saya, berusaha menarik tas yang dijinjing oleh teman saya di bahu kanannya.
Shock saya langsung berlari ke arahnya sambil berteriak "Jambret" "Tolong" "Copet" dan entah apalagi. Para penjambret itu berhasil menarik tas teman saya walaupun dia memberi perlawanan. Jelas lah ya, teman saya itu jalan kaki sementara penjambret itu naik motor. Tinggal gas kencang juga pasti teman saya ikut tertarik.
Kami berdua terus berlari mengejar jambret tersebut yang belok kiri di pertigaan. Daerah Jalan Banda ini memang sepi dan gelap, jadi mau kami teriak minta tolong juga siapa yang mau bantu coba? Yah, walaupun sebenarnya saya melihat disitu ada satpam sebuah bank dan sekuriti sebuah penginapan sedang berdiri di pos masing-masing (yang berada di jalur kami mengejar penjambret tersebut sebenarnya), tapi toh mereka tidak bergeming. Cuma menonton saja tanpa ada niatan menolong. Jahat sekali. :(

Setelah menyerah mengejar penjambret itu kami terduduk lesu di trotoar. Singkat cerita, teman saya itu sedih setengah mati karena hampir semua barang berharga seperti HP dan dompetnya ada di tas itu. Saya yang tidak kehilangan apa-apa saja shock setengah mati sampai ikutan panik. Phisically, kami berdua memang tidak terluka. But mentally? Rasanya saya kaget, sedih, dan sekaligus merasa bodoh.

Saya bertanya-tanya, kenapa bisa kejadian itu menimpa kami? Menimpa teman saya? Berbagai spekulasi ada di pemikiran kami berdua.

Mungkin seharusnya di pertigaan Jonas Photo itu kami memilih untuk belok kiri saja menuju Jalan Riau? Ah. Tapi toh jalan itu juga sama saja gelapnya, saya yakin kalaupun kami menempuh jalur itu penjambret yang kemungkinan besar memang sudah mengintai disitu menunggu mangsa juga pasti akan menghampiri kami.

Atau mungkin seharusnya teman saya berjalan di trotoar bersama saya, bukannya di jalanan yang memudahkan penjambret tersebut untuk menarik tasnya sambil lewat begitu saja? Ah. Tapi toh yang namanya aksi itu ada karena niatan kan? Kalau memang penjambret itu berniat merampok kami, walaupun kami berdua berjalan di trotoar bisa saja kan mereka malah nekat untuk turun dari motor dan menodong kami langsung di trotoar? Mungkin bahkan akan mengancam dengan senjata tajam, seperti beberapa berita penodongan yang pernah saya baca. Malah lebih seram lagi kalau begini kejadiannya.

Atau mungkin seharusnya teman saya itu, dan saya, dan semua wanita di Indonesia tidak menggunakan tas jinjing yang memang relatif lebih mudah dijambret paksa dibandingkan kalau menggunakan tas selempang atau bahkan tas gendong? Atau mungkin seharusnya kami para wanita tidak berjalan kaki di malam hari? Ah. Menurut saya sih semuanya tetap kembali ke statement "Ada aksi karena ada niatan". Mau pakai tas model apa juga kalau memang penjahat itu sudah berniat jahat ya mereka akan melakukan apa saja untuk merampok kita kan? Dan korban penjambretan, penodongan, atau pencurian di jalanan ini saya rasa bukan hanya dialami para wanita. Saya juga pernah baca ada seorang laki-laki yang menjadi korban penodongan di jalanan. Jadi para lelaki juga seharusnya tidak jalan kaki sendirian malam-malam?

Intinya, memang penjambret itu yang salah (ya iya lah, ya?). Kita yang bukan penjahat memang tidak bersalah, tapi harus repot untuk lebih aktif menjaga diri. Yes, selamat datang di dunia yang tidak adil. Orang yang tidak berniat jahat justru harus ikutan repot sendiri jadinya. Sejak kejadian ini saya berjanji untuk tidak akan jalan kaki di malam hari, apalagi kalau sendirian, dan juga untuk lebih mengawasi barang bawaan saya saat bepergian. Haruskah saya membawa perlengkapan perlindungan diri seperti semprotan merica untuk jaga-jaga?

Aih, semprotan merica. Sebelum kejadian ini mana ada saya berpikir sejauh ini. Membaca atau mendengar berita penjambretan selama ini saja saya tidak bereaksi apa-apa, paling sejauh ikut prihatin saja. Lihat kan bagaimana kejadian ini mempengaruhi saya? Saya loh, yang bahkan bukan korban utama dalam kejadian penjambretan ini.

Keamanan memang mahal harganya ya?

Wednesday, June 13, 2012

Mission Failed (2)

Life is all about trial and error, right?
Kita mencoba melakukan sesuatu, dan mungkin, kalau kita cukup beruntung dan diberkahi, pada akhirnya kita sukses melakukannya.
Kalau kurang beruntung?
Gagal lalu coba lagi.
Begitu saja kan pada intinya?

Salah satu bentuk trial and error ini tak lain dan tak bukan, adalah pacaran.
Pacaran, atau menjalin hubungan dengan orang lain, atau beradaptasi untuk hidup bersama orang lain, whatever you named it.
Dan, namanya juga trial and error. Termasuk hal yang wajar kan berarti kalau gagal?

Masalahnya adalah, terkadang kalau kita gagal dalam hal ini, sama seperti kalau gagal dalam setiap hal lainnya di kehidupan, mencoba lagi adalah suatu frasa yang sangat sulit untuk diwujudkan.
Yah, setidaknya untuk beberapa orang.
Lucky to say, i'm not one of those guys.
Saya, bukan perempuan yang akan menangis seminggu penuh sampai tidak mau makan saat patah hati.
Sehari semalam rasanya sudah lebih dari cukup untuk saya menangis karena putus cinta.
Saya juga bukan perempuan yang akan menyimpan sakit hati pada mantan kekasih lalu bertingkah seakan tak saling kenal karena baru saja putus cinta.
Hell no.
Kenapa? Karena ego saya terlalu besar. 

Dia pikir dia siapa sampai bisa membuat saya menangis berhari-hari sambil mengurung diri?
Dia pikir dia siapa sampai bisa membuat saya bertingkah canggung sampai harus repot-repot menghindar?
Dia pikir dia siapa, adalah satu kalimat yang sangat ampuh bagi saya.
Jadi, saya tidak percaya dengan patah hati.
Never have, never will.

Tapi saya percaya dengan yang namanya kegagalan.
Kalau kehidupan kita dituliskan dalam sebuah resume atau CV, saya percaya akan ada satu bab khusus untuk menuliskan kegagalan-kegagalan kita.
Dan layaknya saat kita menulis CV, setiap kegagalan itu akan selalu tersimpan dalam resume yang kita buat.
Menurut saya, ini adalah bagian terburuknya.
Bukan masalah hati yang patah, tapi masalah otak yang merekam suatu kegagalan.
Catat ya, putus cinta itu bukan masalah hati tapi masalah otak.
Yah, setidaknya untuk saya sendiri.

Sampai sini saya masih bisa bilang untung saja ego saya besar.
Dia pikir dia siapa bisa meninggalkan luka sekaligus trauma untuk saya bangkit dari kegagalan?
Dia pikir dia siapa bisa menahan saya untuk memulai kembali?
Dia pikir dia siapa bisa membuat hidup saya dibayangi ketakutan akan kegagalan yang pernah saya alami?

Namun ternyata, bayangan kegagalan itu sungguh terlalu berat.
Ternyata, memori kegagalan itu efeknya lebih besar dari patah hati.
Dibalik sikap sok tidak pernah terluka itu, otak saya masih terus berpikir kalau dulu saya pernah gagal dan kemungkinan besar saat mencoba lagi nanti kegagalan itu akan datang kembali.
Keluar tiba-tiba dari balik pohon, dia tersenyum lebar sambil berujar "Hello, finally we meet again".
Tiba-tiba saya mulai ragu akan keajaiban kalimat "Dia pikir dia siapa" yang selama ini saya agungkan.

This idea of failure is waaaaaay too big for me to handle.
Di atas besarnya ego yang saya punya, bayangan kegagalan itu ternyata selalu mengintai.
Bodohnya saya saja yang selalu mengatakan semua baik-baik saja.
Naif.

Tuesday, May 8, 2012

Umbrella


Cause if you look closer, you'll see that happiness is just right around the corner. 
Why make things complicated, right? :)

Tuesday, February 28, 2012

Sunshine

Panggil aku matahari. Bukan karena sinarnya yang terang, bukan. Bukan pula karena pancaran energinya yang dibutuhkan oleh semua makhluk.
Panggil aku matahari, karena ia adalah benda terpanas di tatanan tata surya.
Panggil aku matahari, karena tak ada yang bisa mendekatinya tanpa harus terbakar.
Panggil aku matahari, karena terkadang ia mengalami badai yang mengakibatkan resiko radiasi pada semua yang mengelilinginya.

Dari semua benda di tatanan tata surya, pilihanmu jatuh pada matahari.
Kau tahu?
Tanpa sadar, alam semesta sedang memberimu peringatan.
Bahwa matahari, dalam jarak yang terlalu dekat, bukanlah sesuatu yang baik.

Tuesday, January 17, 2012

Imaji

"Kamu ingin turun?"
"Turun? Kemana?"
"Ke tempat seharusnya kamu berada sekarang"
"Kenapa? Aku tak semestinya disini ya?"
"Tempat ini tidak nyata"
"Tidak penting. Bukan itu yang penting"
"Apa yang lebih penting kalau begitu?"
"Disini, tidak terbatas"
"Karena itu disini tidaklah nyata. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua akan hilang. Yang tidak memiliki batasan bukan berarti tidak bisa musnah"
"Ya, aku tahu. Aku tahu ini diluar akal sehat. Aku tahu ini bukan dunia yang sebenarnya. Aku tahu disini tidak ada tanah untuk dipijak. Aku tahu sebesar apapun keinginanku untuk bertahan disini, suatu saat aku akan pergi. Mungkin diusir, mungkin akan ada yang menjemputku, atau mungkin kamu sendiri yang akan menurunkanku ke bawah sana, ke tanah yang bisa dipijak, ke ruangan yang luasnya dapat dihitung karena segalanya terbatas. Aku tahu kok semua itu"
"Semakin cepat semakin baik, bukan begitu pepatah kalian di bawah sana?"
"Tidak, pepatah itu tak berlaku di atas sini. Disini aku mau selamanya. Semakin lama semakin baik kalau memang tidak bisa selamanya"
"Apa gunanya? Toh kamu tahu kamu tak bisa selamanya berada disini"
"Karena ini pelarian terindah yang bisa kami dapatkan. Diantara semua hal nyata di bawah sana, berada di tempat semu di atas sini adalah sebuah pencerahan"
"Saat kamu turun nanti, semuanya akan berakhir"
"Setidaknya aku tahu kalau aku pernah berada disini"

Sepasang sayap terbang menjauh, turun ke bumi.
Sepasang senyum merekah di atas awan, menikmati detik-detik semu yang tidak bisa dimiliki selamanya.

Friday, January 6, 2012

Happy New Year, Happy People :)

Akhir tahun lalu dan awal tahun ini tidak diakhiri dan tidak dimulai dengan terlalu baik sebenarnya.
Saya masih terjebak, saya masih bertanya-tanya, saya masih ingin keluar dan pergi ke tempat jauh.
Tapi saya tahu itu tidak bisa dilakukan.

Saya tidak mengucap kata benci.
Mungkin lebih tepat kalau disebut muak.
Muak akan ketidak cocokan.
Muak akan masalah yang sama yang dimulai dari saya masih menjadi bocah ingusan.
Muak akan keadaan yang tidak bisa begitu saja ditinggalkan.
Muak tapi harus sayang.
Muak tapi harus peduli.

Lalu sedikit demi sedikit semuanya terjawab.
Mengapa saya melakukan ini, mengapa saya melakukan itu.
Mengapa saya menjadi seperti ini, mengapa saya menjadi seperti itu.
Mengapa saya berpikir seperti ini, mengapa saya berpikir seperti itu.
Mengapa saya takut pada ini, mengapa saya takut pada itu.
Buah memang tak jatuh jauh dari pohonnya.
Sesederhana itu saja jawabannya.
Jawaban yang tersedia di ujung jalan, mentok, lalu tidak bisa melangkah lebih jauh lagi kecuali kembali pulang.

Saya pernah menuliskan di otak dan di hati,
Bahwa saya tidak tahu ingin menjadi seperti apa nantinya.
Tapi saya tahu persis tidak ingin menjadi seperti apa.
Namun ternyata itu tidak cukup.
Nyatanya, saya justru semakin menjadi apa yang tidak saya inginkan.

Mau menyalahkan siapa kalau sudah begitu?

Saturday, December 3, 2011

Don't guess, ask.

Seringkali, kita terlalu disibukkan dengan pikiran masing-masing.
Pikiran yang bisa bercabang kemana saja kapan saja dan bisa menghasilkan apa saja.

Hasilnya?
Kita terlalu disibukkan dengan pikiran kita itu, memuat asumsi demi asumsi yang semakin lama berkembang menjadi kesimpulan dalam pikiran kita sendiri.
Terkadang kita lupa untuk bertanya, karena merasa sudah memiliki jawabannya.
Terkadang kita berlindung di balik pembelaan "sudah berpikir masak-masak" sementara yang dibutuhkan sebenarnya hanyalah keinginan untuk bertanya.
Asumsi bukan kesimpulan.
Dan ada banyak hal mengenai manusia yang tidak bisa dianggap benar kalau baru sampai tahap asumsi hasil pikiran subjektif.

Pertanyaan sederhana seperti,
Apa kabar?
Menurutmu gimana?
Apa yang kamu rasakan?
Terkadang justru menjadi pertanyaan yang paling sulit untuk dilontarkan, bagi mereka yang sudah merasa tahu jawabannya.

The point is,
How do you know that your own answer is right if you don't even bother to ask?